CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Friday, May 8, 2009

Seni Jalanan

Teringat kisah Ikal dan Arai yang mengelilingi Eropa dengan uang hasil meminta di jalan, dalam buku Edensor karya Andrea Hirata. Mereka menggunakan kostum yang aneh untuk menyamarkan diri, ditambah dengan accesoris yang unik sebagai penarik perhatian. Tentunya mereka juga berkelakuan sesuai dengan peran yang mereka jalankan dan kostum yang mereka gunakan. Harus rela berdiri mematung selama ber jam-jam, menahan sakit ketika dicubit orang, dan tentunya harus siap menaggung malu. Ternyata meminta uang di jalan bukan sebuah pekerjaan yang rendah di Eropa, bahkan ada universitas yang secara khusus mengajarkan seni jalanan kepada para mahasiswanya.


Akhir-akhir ini saya melihat seni jalanan ala Indonesia. Yaitu dengan menggunakan kostum “jathilan” dan menari layaknya “jathilan” di tempat yang strategis, seperti di perempatan jalan Wonosari dan di bawah jalan layang Janti. Tidak hanya itu saja, mereka juga mengiringi tarian itu dengan musik dan gamelan yang khas. Walaupun hal ini mereka lakukan untuk meminta uang kepada pengguna jalan atas penampilan meraka, namun saya pikir hal ini harus mendapat perhatian yang serius dan perlu dikembangkan untuk melestarikan budaya. Sehingga kualitas seni jalanan Indonesia menjadi lebih bermutu dan bernilai tinggi.
Hingga detik ini, tidak banyak orang yang meminta di jalan dengan memperhatikan nilai seni dan budaya, sebagian besar dari mereka hanya bernyanyi ala kadarnya bahkan hanya dengan menengadahkan tangan. Walaupan ada juga yang bernyanyi dan bermain musik dengan hebatnya, sehingga kita sering menyebut mereka dengan istilah musisi jalanan. Menurut saya mereka tidak jauh berbeda dengan musisi kelas atas yang bernyanyi di atas panggung, sama-sama menjual suara dan ketrampilan bernyanyi. Jika suaranya bagus dan memiliki ketrampilan bernyanyi yang tinggi maka akan memperoleh banyak penghasilan, jika tidak maka hanya akan ditidakacuhkan.
Sepertinya jiwa peseni jalanan harus segera dibangkitkan kembali. Tentunya tidak terbatas pada seni suara dan musik, namun juga seni tari, sulap dan lain sebagainya. Topeng monyet dan ludruk itupun termasuk salah dua diantaranya. Jika hal ini dapat terwujudkan, insyaallah akan membuat jalanan menjadi lebih berwarna. Dan mungkin juga hal ini dapat menjadi sebuah hiburan bagi para pengguna jalan hingga mereka bisa menikmati perjalanan , mengurangi stress dan resiko kecelakaan.

Selengkapnya...

NASIB MEREKA

Banyak yang menganggap remeh orang yang mencari uang di jalanan. Posisi mereka direndahkan, dianggap perusak pemandangan dan pengganggu pengguna jalan. Bahkan kadang kita hanya memandang mereka sebelah mata ketika mereka menyodorkan topi untuk meminta sekeping koin dari saku kita. Dan cukup dengan ayunan tangan pertanda sebuah penolakan mereka akan segera pergi dari hadapan kita.
Memang benar kata pemerhati sosial,memberi uang kepada anak jalanan tidak baik untuk pendidikan dan hanya akan membuat mereka malas untuk bekerja. Pemerintah telah berusaha mengurangi ledakan anak jalanan dengan memberikan ketrampilan agar mereka dapat berwirausaha. Namun mengapa kebanyakan mereka lari ketika satgas mendatangi mereka untuk dibawa ketempat pelatihan? Dan mengapa mereka menolak fasilitas yang telah diberikan pemerintah?



Tentunya karena mereka merindukan kebebasan, kebebasan yang hanya dapat diperoleh ketika mereka hidup di jalanan. Tidak aturan yang mengikat.
Mungkin metode pendekatan yang dilakukan pemerintah kurang tepat. Jika program pelatihan ketrampilan tidak dapat mengurangi populasi anak jalanan, pemerintah seharusnya membuat program bagaimana anak jalanan dapat diberdayakan dan dididik dengan baik.
Seperti yang telah dilakukan lembaga sosial kemasyarakatan ataupun orang yang peduli terhadap nasib anak jalanan. Mereka tidak menjauhkan anak jalanan dari kehidupan di jalan, namun mereka memanfaatkan kehidupan di jalan untuk mendidik dan memberdayakan mereka. Sebagai contoh adalah mendirikan sekolah gratis di bawah jalan tol, mengajari mereka bermusik dan mengembangkan potensi diri.
Keras memang kehidupan di jalan, tak ada atap yang memayungi diri dari terik matahari dan derasnya hujan, tak ada kasur empuk tempat menghangatkan tubuh ketika tidur, belum lagi todongan preman kasar yang siap menguras isi kantong. Namun banyak juga dari mereka yang menikmati hidup di jalanan, jauh dari kemunafikan hidup, berpenampilan apa adanya, tanpa topeng pemalsu diri.
Saya sempat berpikir, mungkin hidup mereka lebih bahagia dari para pejabat tinggi, walaupun kemiskinan dan penderitaan terus menerus menerpa, namun mereka bersikap jujur, tidak lari dari kenyataan, tidak seperti pejabat yang kekayaannya menumpuk namun hatinya sempit, pintar memoles diri untuk menutupi kekurangan.
Dan ketahuilah, bahwa orang yang kaya itu dihisab paling akhir di hari perhitungan kelak, mereka bahagia di dunia namun belum tentu bahagia di akhirat.

Selengkapnya...

Thursday, May 7, 2009

Apakah Aku Terlalu Rakus dalam Menerima Amanah?

Selasa, 5 Mei 2009
Kuliah berakhir pada pukul 17.30, setelah sholat maghrib aku langsung menuju ke komsat IMM UGM, guna menyelesaikan LPJ musykom. Aku tahu, aku tak boleh pulang larut malam, jadi aku bergegas untuk pulang ketika jam menunjukkan pukul 19.30.
Perasaanku tidak enak, aku pamit kepada Febri, Auriza dan Mb Kitti dengan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kuperbuat, kalau-kalau aku mati di tengah jalan. Dan ternyata..

DUERRR...BRUUUK

Aaaaaaagggghhhh, aku disudruk motor, alias tertabrak,
Tapi alhamdulillah masih bisa bangun sendiri. Sebenarnya orang yang menabrakku mau memperbaiki kerusakan motorku di bengkel, tapi sudahlah, terburu malam, lebih baik aku pulang dan memperbaiki kerusakan motorku esok hari. Nekat aku ini, berani menaiki motor yang poroknya bengkok, yah, aku berjalan dengan motor yang oyag ayig amat pelan. Alhamdulillah selamat sampai rumah. Setelah lapor pada ortu, sholat dan mandi sensasi rasa sakitnya mulai kurasakan, hantaman keras tadi menyadarkanku akan suatu hal, dan aku mereview kegiatanku beberapa hari ini.


Jum’at , 1 Mei 2009

Aktifitasku dimulai dari kuliah, kemudian menyebar dan menempel poster seminar AJAX yang diadakan OMAH TI di UNY dan UIN bersama Icha. Huft, panas-panas menjelang jum’atan jalan bolak-balik muter UIN, belum lagi di FT UNY, seperti masuk kandang macan, harus menanggung malu karena dominasi kaum Adam, di FT UGM saja kaum hawa tidak begitu terasingkan.

Setelah berpanas-panas ria aku menuju ke GSP, menengok stand IMM UGM untuk MABA, alhamdulillah bertemu dengan anak Mu’allimaat yang keterima di UGM.

Kemudian langsung menuju ke jl Wonosari, takziyah ke tempat Pak Harwanto Dahlan bersama Dibie, dek Iqbal, mas Iip, Mas Zalik dan Dek Ima. Subhanallah, hebat Pak Harwanto Dahlan itu, pelayatnya banyak sekali, mulai dari politikus, ilmuwan, mahasiswa, aktifis, masyarakat kelas bawah sampai musisi sekelas Letto pun mengucapkan bela sungkawa melewati karangan bunga. Jarang ku temukan public figure yang bisa merangkul semua kalangan.
Sepulang dari takziyah, aku, Inung dan Dibie menuju rumahku, kami makan bersama dalam satu piring, nostalgia masa lalu. Setelah mereka pulang aku harus beres-beres rumah dan menyiapkan diri untuk RaKer IMM UGM yang kebetulan bertempat di rumahku.
Acara RaKer dimulai pukul 20.30. yah seperti RaKer pada umumnya, tidak ada yang begitu berkesan bagiku. Namun aku tetap senang karena bisa menjadi tuan rumah, bangga rasanya, rumahku turut mengukir sejarah perkembangan IMM UGM periode 2009/2010, dan tentunya hawa keintelektualitasan mereka dapat mengubah atmosphere rumahku.

Sabtu, 2 Mei 2009

Raker ini baru selesai pukul 02.00 dini hari, immawati langsung masuk ke kamar untuk bersiap tidur, sedangkan para immawan tergeletak di ruang tamu alias tempat raker. Terkecuali aku, Mb Kitti, Auladi, Auriza dan Bustan, kami menuju ke Musholla, aku dan Auladi mengerjakan tugas kalkulus, Auriza dan Mb Kitti disibukkan dengan laptop, sedangkan Bustan membaca komik.

Pukul 02.30 Bustan sudah terlelap di musholla, 15 menit kemudian disusul Mb Kitti yang masuk kamar. Musholla berukuran 4 x 3 tersebut tinggal 3 makhluk yang terbelalak matanya, aku melihat ke samping musholla ada ruang tamu tempat para immawan tidur, dan ke depan musholla ada kamar tempat immawati tidur.
Jeglek...Astagfirullah, aku baru sadar bahwa aku cewek seorang diri, oh TIDAAAK! Aku harus segera masuk kamar.
Jegrek..jegrek,
aku mencoba membuka pintu kamarku. Astaghfirullah, ternyata tak bisa dibuka, entah terkunci atau apa. Aneh, aku tidak bisa masuk pintu kamarku sendiri.
Hiks hiks, akhirnya aku meneruskan mengerjakan kalkulus bersama Auladi. Jika yang sebelumnya didengarkan adalah lagu Sheila on 7 guna mengusir kantuk, maka sekarang yang didengarkan adalah murattal al-Qur’an guna menjaga hati kami dan mengusir syeitan.

Auriza mulai menghempaskan diri bersama para immawan yang lain di ruang tamu,kini hanya tersisa aku dan Auladi yang masih terjaga, kami pun tetap menyibukkan diri dengan soal-soal kalkukus. Dalam hati aku berharap agar adzan subuh segera berkumandang, untuk memecah keheningan pagi.
Begitu Adzan terdengar, aku langsung membangunkan para immawati melewati jendela. Alhamdulillah suasana rumahku kembali ramai. Kami pun sholat subuh berjama’ah di ruang tamu. Seusai sholat subuh para immawan bersiap diri untuk pulang, sedangkan immawati mencuci piring dan gelas di dapur.
Setelah pamit dan mengucapkan terimakasih kepad ortuku mereka pulang, kecuali mas Ghif, Auladi, Auriza, Bustan dan Molly. Kami pun memanggil Erwan, alumni Mu’allimin yang rumahnya dekat rumahku. Akhirnya reunian deh, kumpul IKMAMMM82 ditambah mas Ghif yang alumni Gontor.

Suasana langsung berubah, canda tawa membahana, senyum menghiasi wajah kami. Ibuku membuatkan kopi dan membelikan kukis untuk mereka. Kemudian aku membantu ibuku untuk menyiapkan sarapan. Setelah persiapan selesai , aku memanggil mereka untuk masuk dan sarapan bersama. Namun setelah mereka masuk mereka tidak mau mengambil makan, tidak enak hati ku kira. Akhirnya aku dan Molly meladeni mereka mengambilkan nasi dan lauk..wahh, aku benar-benar memanjakan mereka, alhamdulillah di antara kami tidak ada perasaan apa-apa, jadi sudah terbebas dari virus cinta. Aku menyayangi mereka layaknya aku menyayangi teman cewekku, kami berkumpul layaknya saudara.

Pukul 08.00 mereka pulang kecuali Molly, aku segera mandi dan beras-beres rumah. Setelah kepulangan mereka kantuk dan lelah benar-benar ku rasakan, ingin sekali rasanya aku tidur, namun tak bisa karena harus menemani Molly ke Fak Pertanian. Sampai di Fak Pertanian mataku lengket, aku terkantuk-kantuk di kursi sembari menunggu Molly.

Pukul 12.00 aku harus menuju ke tempat Dibie, karena kami akan mengikuti aksi pelajar dalam Hardiknas yang diadakan oleh PW IPM DIY. Kami berkumpul di Mu’allimin, seharusnya aksi ini diikuti dengan berjalan kaki sepanjang 2-3 km dari Mu’allimin menuju kantor pos, tapi aku tahu, aku tak akan sanggup, melihat keadaan teman-temanku yang dihantui kelelahan, Molly tidak jadi ke Bantul mengikuti raker PD IPM karena capek, Auladi yang tertidur di Stand IMM UGM karena capek juga.
Akhirnya aku mengikuti aksi tersebut dengan menaiki motor. Niat hati tidak akan mengikuti aksi sampai selesai, namun setelah mendengar para orator berorasi dengan hebatnya, aku jadi mengurungkan diri untuk pulang, terbius kobaran semangat mereka.
Setelah aksi selesai aku langsung pulang, tidak mampir ke Mu’allimin dulu, setibaku di rumah

1
2
3
Bruuk
Aku pun telepar, lemes banget rasanya, sholat ashar masih sadar, namun ketika sholat maghrib dan isya’ kesadaranku kian melemah, langsung tergeletak di atas kasur, tidak bisa membantu teman-temanku di kampung untuk mengurusi pengajian anak-anak.

Ahad, 3 Mei 2009

Aku teringat akan kajian IMM, CSS UGM dan raker PC IPM BU, mata sudah bisa terbuka namun badan sulit untuk digerakkan. Harus dipaksakan, paksakan badanku untuk bergerak. Alhamdulillah dengan pengumpulan tenaga kembali aku berhasil mengikuti raker PC IPM BU sebagai prioritas dan meninggalkan kajian CSS serta IMM.
Di tengah-tengah raker, aku mendapatkan sms yang berisi undangan untuk kumpul IKMAMMM di Mu’allimin sore nanti. Astaghfirullah, aku harus paksakan badan sekali lagi. Aku mengajak Dibie, Molly dan dek Iqbak untuk kumpul IKMAMMM. Ah..ternyata Dibie pun terkapar di kamarnya, dek Iqbal pun tidak bisa karena ada acara, dan Molly..??? huft, ternyata teman-teman seperjuanganku sedang mencapai titik puncak kelelahan, aku pun merasa seperti itu.
Seusai raker aku kembali ke rumah sebentar untuk istirahat, dan setelah sholat Ashar langsung menuju ke Mu’allimin. Aku baru menginjakkan kakiku di rumah kembali pukul 20.00.

Senin, 4 Mei 2009

Kelelahan fisik sudah tidak begitu ku rasakan, namun kelelahan pikiran masih menggelayuti diriku. Untuk refreshing aku dan Dibie mengikuti kajian kristologi di PP Budi Mulia, dan baru tiba di rumah pukul 22.15

*****

Yupz, aku tersadar kembali. Kecelakaan itu membuatku harus mengubah jalan hidupku. Sebuah kalimat yang sering dilontarkan bapakku ketika aku berpamitan untuk mengikuti kegiatan di luar kuliah

“oalah diiiik, dik, kapan lemu arep leren ki? Mesakke awakmu kui lho”

Yah, aku faham, aku harus melepas salah satu amanat yang ada di pundakku. Aku harus ingat bahwa amanat terbesarku sekarang adalah kuliah, karena aku kuliah dibiayai negara yaitu Departemen Agama, jadi hasilnya harus ku pertanggungjawabkan pada negara.

Namun sulit juga untuk memutuskannya, karena aku merasakan suasana persahabatan, persaudaraan dan perjuangan yang kental ketika berada di tengah-tengah mereka, bukan material semata yang kucari, namun kenyamanan spiritual. Lalu apakah aku harus bertahan dengan kondisi seperti inihuhy? Ataukah harus meninggalkan amanat yang telah kupegang?



Selengkapnya...

Tuesday, April 14, 2009

BERKIBARLAH BENDERA IPM-KU



Ahad, 12 April 2009, ada sebuah moment berharga untukku, yaitu Pelantikan PC IPM Banguntapan Utara. Pelantikan yang aneh menurutku, karena yang namanya pelantikan tu ya yang ngurus pengurus lama, namun entah kenapa pelantikan kali ini yang ngurus pengurus baru. Jadi kami mengadakan acara untuk melantik diri kami sendiri(hahaha, lucu lucu)..

Terlepas dari semua itu, aku kembali menikmati perjuanganku. Hanya untuk melihat bendera IPM berkibar dengan gagahnya saat pelantikan, aku relakan diriku mengambil bendera IPM di kota Bantul, malam minggu pukul 7.

Bukan untuk pamer ataupun riya’. Aku hanya merindukan suasana itu, suasana haru dan bangga akan perjuangan yang ku rasakan bersama teman-teman di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah tercinta.

Akhirnya, bendara yang berlambang “putelot bujel” itu pun dapat berkibar dengan gagah di depan Aula Al-Muthi’in, sebuah tempat yang dulu merupakan tempat bermainku bersama saudara-saudaraku, dan kini dirombak menjadi sebuah aula milik yayasan Al-Muthi’in. Sekali lagi aku merasakan sebuah keanehan. Yayasan itu berdiri di atas tanah wakaf saudara-saudaraku, ketua yayasannya adalah pakdheku sendiri, yayasan terbesar kedua di Jogja, yang diketuai seorang ketua PC Muhammadiyah Banguntapan. Namun...yang didirikan adalah TKIT dan SDIT, disamping ada TPA dan kejar paket juga sih... hmm, bukannya aku membenci nama IT, hanya saja aku merasa kehilangan spirit of Muhammadiyah jika berurusan dengan nama IT,,dan karena yayasan diurus oleh orang Muhammadiyah, maka mereka memberanikan diri untuk meminta bantuan dana ke PP Muhammadiyah dan yang diutus adalah mahasiswa UAD yang sedang KKN di kampungku.

Dan tahukah kalian apa yang terjadi???

Yaah, jelas ditolak tho yoh..walaupun memintanya dengan jas orange khas UAD, pin IMM di dada, slayer Muhammadiyah di kepala dan segala tetek bengeknya. Secara lembaga pendidikan milik Muhammadiyah aja banyak yang kekurangan dana,,ehhh..ini kok IT berani-beraninya minta. Hehehe, tapi ya ga tahu kenapa, dana untuk membangun yayasan itu selalu adaa aja, mungkin yang berniat mendirikannya adalah orang yang bertaqwa, sehingga firman Allah “ma man yattaqiillaha yarzuqhu min haitsu laa yahtasib” pun berbicara.hahaha

Nah, oleh karena itu, bangga rasanya melihat bendera IPM bisa nampang di kawasan SDIT dan TKIT. Sekaligus memuhammadiyahkan kembali kampungku.(weh, lha kok fanatisme organisasi?)..emm, mungkin lebih tepatnya menjadikan warga kampungku menjadi pengikut nabi Muhammad SAW.(hehe, bedane opo?)

Selengkapnya...

Monday, April 6, 2009

Metode Dakwah

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
“Yassiruu walaa tu’assiruu, Basysyiruu walaa tunaafiruu”
(mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibuat lari)

Hikmah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah perkataan yang benar dan tegas yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Dalam Muhammadiyah ayat ini sudah sangat sering disampaikan dan menjadi dasar Muhammadiyah dalam berdakwah, sehingga terciptalah konsep dakwah cultural.
Dakwah Cultural adalah cara berdakwah dengan cara perdekatan budaya. Budaya, tradisi dan adat istiadat yang sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat dihargai, kemudian dikemas dengan nilai-nilai Islam sehingga lambat laun masyarakat dapat meninggalkan tradisi yang berbau TBC (takhayul, bid’ah, khurafat) dengan peribadatan sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosul.

Terkait masalah konsep dakwah cultural, terkhusus budaya selamatan, ada 3 opsi yang ditawarkan
1. Mendatangi acara selamatan, namun secara pelan-pelan harus dapat menjelaskan kepada masyarakat bahwa hal tersebut adalah bid’ah, dan berusaha merubahnya. Mungkin dengan mengkaji ayat-ayat dan dzikir yang dibaca, mengurangi 7harian menjadi 3harian, kemudian menjadi 1hari, dll.
2. Datang tapi terlambat, dalam artian tidak mengikuti tahlilan, namun hanya ceramahnya saja, sebagai kewajiban seorang muslim jika mendapat undangan. Namun, jika seperti ini, masyarakat kurang mendapat pemahaman.
3. Tidak datang, dengan maksud memberikan pelajaran bagi masyarakat bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini menimbulkan konsekwensi yang lebih besar, sebagai ganti tidak mengikuti setiap acara selamatan, orang tersebut harus pintar “srawung” dan bersosialisasi dengan masyarakat pada kesempatan yang lain.

Yang saya bingungkan di sini adalah, apakah cara tersebut efektif untuk menghilangkan tradisi masyarakat? Yogyakarta adalah kota tempat kelahiran Muhammadiyah dan Muhammadiyah pun amat berkembang pesat di Yogyakarta. Namun kenapa di Yogyakarta sendiri tradisi kejawennya masih tumbuh subur? Padahal KHA. Dahlan sendiri dulu tumbuh di lingkungan kraton, sungguh ironis.

kemudian jika kita terlalu apatis terhadap kebudayaan tersebut, maka justru orang non-Islam akan berteriak kegirangan karena mendapatkan kesempatan yang baik untuk memurtadkan orang Islam. Hal ini pernah terjadi di Jawa Timur. Ada sebuah desa yang kebudayaan selamatannya telah benar-benar menghilang, namun hal tersebut terjadi karena pemaksaan, bukan penyadaran. maka masyarakat pun mencari celah untuk dapat melestarikan apa yang diyakininya. dan moment ini dimanfaatkan missionaris, mereka mangadakan selamatan untuk orang Islam, namun yang dibaca bukannya dzikir islami, melainkan ayat-ayat injil yang berbahasa Arab. astaghfirullah

Guru saya berkata bahwa itulah proses, dan itulah yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk selalu dakwah amar ma’ruf nahi munkar, karena memang sulit sekali berhadapan dengan tradisi masyarakat. Mengingatkan anggota keluarga sendiri saja kadang kita tidak mampu.

Dan menurut teori dakwah, dakwah itu harus disesuaikan dengan objek yang didakwahi.
Jika orang yang kita dakwahi sudah mampu untuk menerima kebenaran seutuhnya maka katakanlah dengan tegas dan terang, namun jika orang yang kita dakwahi belum mempu untuk menerima kebenaran maka lakukanlah dakwah dengan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu.

Konsep ini juga pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau berdakwah di Makkah, yang pertama kali beliau lakukan adalah menanamkan iman dan tauhidullah di hati umatnya. Dan ketika beliau berdakwah di Madinah, beliau mulai menanamkan hukum-hukum agama, jihad, muammalah, dll. Hal tersebut dikarenakan oleh kondisi umat Islam di Madinah yang lebih siap menerima kebenaran dibanding kondisi umat Islam di Makkah. Dan dakwah nabi pun terbukti keberhasilannya.

Jika kita melihat pada sejarah masuknya Islam ke Indonesia, orang Indonesia pada umumnya menyukai Islam karena ajaran agama Islam yang tidak mengenal sistem kasta, penyebaran Islam dilakukan dengan jalan damai, upacara keagamaanya yang sederhana, dll. Walaupun telah memeluk Islam, umat Islam pada waktu itu masih sulit sekali meninggalkan tradisi animisme, dinamisme maupun ajaran Hindu Budha, sehingga dilakukanlah pendekatan-pendekatan kebudayaan. Seperti para Sunan yang mengundang orang untuk memeluk Islam dengan gamelan, wayang kulit yang dijadikan hiburan dikemas nilai Islam dengan diubahnya bentuk tubuh wayang kulit agar tidak terlalu menyerupai manusia, dll.

Dalam babad tanah jawa yang tersimpan di museum Belanda tercatat, bahwa Sunan Kalijaga berkata,
“ aku berharap agar umat Islam di masa mendatang dapat meluruskan apa yang aku perbuat sekarang”.
Yah, karena memang dakwah di masa dulu tidak akan diterima masyarakat jika langsung saklek, ekstrim dan tidak flexible.

Kemudian saya mencoba membandingkannya dengan proses penyebaran agama Kristen. Kebanyakan upacara agama kristen tidak murni dari agama Kristen tapi juga ada akulturasi budaya dengan agama Pagan (penyembah alam). Seperti hari Natal, tanggal 25 Desember diambil dari hari raya kaum Pagan. Dulu hari suci kaum Nasrani adalah hari Sabtu, kemudian digeser 1 hari hari Minggu yang merupakan harinya kaum Pagan untuk menyembah matahari ( SunDay=hari matahari).

Umat Kristen saat ini tampaknya tidak terganggu dengan hal semacam itu. Namun umat Islam sangat amat terganggu dengan akulturasi budaya Hindu Budha, animisme dinamisme ke dalam ajaran Islam, karena hal itu amat terkait dengan masalah aqidah.

Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah wali songo?
Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah Muhammadiyah?
Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah umat Islam pada umumya? Selengkapnya...

Sunday, March 29, 2009

Sang penyejuk hati

Kenapa dia sangat menghormatiku???

Jika aku menghormatinya setinggi gunung maka dia akan menghormatiku setinggi langit

Aku capek, harus menjadi orang dewasa, yang bisa mengayomi teman-temanku

Tersenyum di bawah penderitaan, untuk melihat mereka tersenyum

“tabassumuka fi wajhi akhiika shadaqah”
Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah

Yaa, aku hanya mencoba mengamalkan hadits di atas, untuk mengharap ridho Allah
Namun, aku lelah jika harus selalu mendengar keluh kesah mereka, sedangkan keluh kesahku tak dapat ku keluarkan.

Setiap orang memiliki sisi kedewasaan dan sisi kekanak-kanakan.

Kadang aku ingin dianggap sebagai anak kecil yang disayangi dan dimanjakan.
Dan harapan ini kutambatkan kepadanya.

Dia yang dapat menenangkan hatiku, walau jarang ku dengar suaranya, walau jarang ku lihat wajahnya, hanya dengan membaca tulisannya.

Astaghfirullahal ‘adziim

Tak ada kata yang dapat ku ucapakan, hanya senyum dan anggukan yang keluar dariku dan darinya ketika kita bertemu. Yah, dia amat sangat menghormatiku, padahal aku amat sangat mengaguminya.

Aku membutuhkannya

ketika jiwaku tergoncang, melihat senyumnya seakan-akan goncangan itu hanya mengayun lembut tubuhku.

Ketika diriku tertekan, aku membayangkannya berjalan ke arahku, berusaha untuk menghiburku. Walau hanya dalam bayangan, namun auranya dapat ku rasakan.

Dalam kebahagiaan pun, aku ingin membagi perasaan itu dengannya.
Ah, selama ini aku hanya bertahan dengan kekuatan impian itu.

Berharap kepada manusia harus berani menanggung resiko kecewa dan putus asa, dan aku tak mau merasakannya.

Harapan itu kini kutambatkan kepada Allah Sang Pencipta, melewati do’a, aku meminta
“ ya Allah, jadikanlah dia penyejuk hatiku, setelah kalam-Mu dan cinta-Mu”
Amien..
Selengkapnya...

Friday, March 27, 2009

Musykom IMM UGM


href="file:///C:%5CUsers%5Cmiftah%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml">

Indah bukan pemandangan di atas?? Subhanallah walhamdulillah..walaa ilaaha illallah..wallahu akbar

Ku ceritakan pada kalian

Jum’at 20 Maret 2009, pukul 22.00 aku baru pulang ke rumah, seusai menunaikan amanah di mu’allimaat dan IMM, belum istirahat sejak pukul 7 pagi diriku ini, sampai di rumah masih harus dihadapkan dengan menumpuknya tugas, dan mata ini baru terpejam pukul 02.00 sabtu dini hari.

Sabtu 21 Maret 2009, sebetulnya aku harus stand by di masjid Al iman pukul 7 pagi, namun karena harus mempersiapkan surat dan mengeprintnya baru pukul 8 aku sampai di Masjid Al-iman, dan baru berangkat setelah pukul 9.00. Rombongan musykom ini terdiri dari atika, molly, miftah, mb Luluk, mas ghifari, mas malik, yusro, wisda, mb dania, mb kiti, mb izza, wahyu, ulum, mb qalbi, dll.

Perjalanan yang lama pun kian bertambah lama, karena untuk sekian kalinya anggota dari rombongan tersesat dan terpisah, sehingga harus saling menunggu dan mencari, tapi kelelahan dalam perjuangan pun dapat terobati dengan indahnya pemandangan di sekeliling jalan menuju Mangunan, Bantul.

Aku suka perjalanan ini, penuh tantangan, melewati jalanan yang terjal dan berkelak-kelok, naik turun bukit, diiringi dengan merdu suara burung dan roda motor yang bergesekan dengan batu kerikil.

Lokasi musyawarah komisariat benar-benar berada di pucuk bukit, tak ada lagi tempat yang lebih tinggi dari itu sejauh mata memandang, deburan ombak di laut selatan pun terlihat berkejar-kejaran,,tak henti-hentinya aku mengucap subhanallah!!!

Pembukaan dimulai selepas sholat dhuhur, dilanjutkan dengan pleno 1 yaitu pembahasan tata tertib,,,sepertinya alam turut memeriahkan musykom kali ini, sekitar pukul 14.00 hujan mulai mengguyur lokasi musykom, hujan deras yang diiringi dengan badai. Tentunya kalian dapat membayangkan, biasanya angin di daerah kota atau dataran rendah tidak terlalu kencang, karena ada pohon dan bangunan tinggi yang menahannya, namun ini di dataran tinggi kawan, tidak ada yang dapat menahan kerasnya angin dan badai. Karuan saja pohon-pohon begitu keras berayun-ayun mengikuti arah angin, suara kerikil dan batu yang terangkat pun terdengar amat keras di atap sana, dan bocorlah bangunan yang kami gunakan.

Otomatis Pleno pertama pun ditunda, ada suasana kepanikan yang muncul, karena tempatnya banjir, air hujan masuk melalui celah-celah pintu dan jendela, belum lagi atap yang bocor, air masuk layaknya pancuran, barang-barang mulai diungsikan ke tempat yang aman.

Aku perhatikan teman-temanku yang berjuang di pendopo, Auriza, Devit dan Bustan.. ah kasihan sekali mereka, tentunya angin langsung menerpa tubuh karena tak ada tembok yang menghalangi, dingin yang merasuk ke sumsum tulang, dan badan yang basah karena terkena hujan. Tapi entah mengapa, aku justru amat menikmati situasi ini. Rasanya aku ingin memanjat ke pohon yang tertinggi, mengikuti ayunan angin sambil bernyanyi. Jiwa liarku pun bangkit kembali, andaikata aku membawa cukup ganti, pasti aku akan melakukannya. Tak peduli apa kata orang..hiks hiks, namun aku hanya dapat membayangkannya, ingin sekali ku berteriak, melepaskan kepenatan yang selama ini menghantui.

Ah, tapi aq cukup senang, lama sudah aku tidak menjumpai kondisi seekstrim ini.

kami pindah ke lokasi yang lebih rendah pukul 16.00, dan saat itu banyak anggota komisariat yang baru datang dari kota Jogja. Rapat Pleno 1 pun dilanjutkan, kemudian diteruskan dengan Pleno 2 yang berupa laporan pertanggungjawaban.

dan tahukan kalian, sampai jam berapa kita melakukan Pleno 2?

Sampai jam 3 pagi kawan..

Dan itu pun tinggal beberapa orang yang tersisa, yang lain pada memejamkan mata dan menghangatkan diri...

Setelah sholat subuh pun aktifitas kembali seperti semula, berfoto-foto sejenak kemudian melanjutkan sidang pleno ke-3 dan ke-4, tak ada yang begitu berkesan dalam sidang pleno kali ini, sama seperti musyawarah-musyawarah yang ku ikuti selama ini.

Ternyata acara yang diagendakan dapat selesai siang pun molor hingga sore hari, aku ingat akan amanahku untuk mengajar di Mu’allimaat, sehingga harus pulang mendahului yang lain. Aku pulang bersama Atika dan Wisda, sekali lagi, dalam perjalanan yang jauh pada kali ini aku hanya bermodalkan nekad dan berani bertanya,,,hah, dan benar rupanya, aku lupa jalan pulang, awalnya sih hanya menggunakan insting untuk menentukan arah, namun aku merasa telah jauh tersesat. Dan bertanyalah aku pada penduduk setempat. Aku mengikuti arah yang diberitahukan penduduk tadi, namun aku merasa jalan yang ku lalui sekarang berbeda dengan jalan waktu berangkat.

Kok rasanya kemarin ga sejauh ini untuk mencapai jalan raya?

Hah, namun aku terus melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk penduduk tadi..alhamdulillah, tersesat membawa nikmat, pemandangan yang ku dapatkan ketika pulang jauh lebih indah ketika waktu berangkat, jalanannya lebih terjal dan menantang, subhanallah, aku benar-benar terpana, indaah sekali pemandangan yang ku lihat, ingin sekali aku beristirahat sejenak sekedar untuk menikmati pemandangan yang amat indah itu, aku hanya bisa mengurangi kecapatan motorku karena harus segera mencapai Jogja. Namun ada satu hal yang bisa kulakukan, yaitu berteriak, sepi lenggang, tak ada yang mendengar kecuali Atika, tidak menggema pula suaraku itu, Wisda juga sepertinya terkantuk-kantuk di belakang sana...ah aku merasakan bebas,,

Sampai di Jogja Adzan mahrib berkumandang, kami sholat di Masjid Gede Kauman, wah, aku mulai merasakan detik-detik terakhir sisa energiku, Wisda dan Atika pun merasakan hal yang sama. Setelah itu aku mengantarkan Atika sampai ke kosannya, kemudian kembali ke Mu’allimaat untuk mengajar. Dalam perjalanan, aku mulai mereview kegiatanku dalam beberapa hari terakhir, tidur larut malam, energi banyak yang terkuras, dan benar-benar mencapai puncak kelelahan setelah musykom. Aku tidak yakin dapat mengajar dengan baik di Asrama Maryam Mu’allimaat. Hanya keinginan untuk melaksanakan amanah yang membawaku dapat mencapai Asrama Maryam.

Ting tong, ting tong!!

Aku membunyikan bel asrama,

ah, ternyata anak-anak belum siap, sekalian menunggu waktu isya’ kata mereka. Aku langsung menuju kamar ustadzah, yang tidak lain adalah teman sekelasku dulu, Santi. Astraghfirullah, ternyata tulangku tak kuat lagi untuk menyangga badan, terbujur langsung aku di atas kasur temanku, dan terpejamlah mata. Benar-benar tak sadarkan diri, santi membangunkanku ketika anak-anak sudah siap untuk diajar.

Laa haula walaa kuwwata illa billah, aku mencoba mengumpulkan segenap energi yang tersisa. Sering aku mengajar dalam keadaan lelah, namun baru kali ini aku mencoba mengajar dalam keadaan tak bertenaga, hanya semangat yang tersisa di jiwa..benar-benar seperti kesurupan aku ini, aku hampir tak sadar apa yang telah kuucapkan pada anak-anak didikku, namun senyum mereka seperti membangkitkan jiwaku. Entah kenapa mereka tiba-tiba menjadi murid yang sangat baik, tidak seperti biasanya, kini menjadi mudah diatur dan dipahamkan. Mereka membantuku walau hanya sekadar menghapus papan tulis dan mengambilkan spidol.

Alhamdulillah satu amanah selesai, aku pulang ke rumah dalam keadaan tak karuan, padahal esok hari aku harus presentasi. Alhamdulillah kuucapkan selalu, justru dalam keadaan terjepit dan terdesak seperti ini aku merasakan benar cinta Allah lewat pertolangan-Nya. Ya Allah, aku sangat amat mencintai-Mu...Aku tak tahu, sampai kapan tubuh ini bisa bertahan. Semoga pertolongan Allah dapat kurasakan selalu. amien..

Selengkapnya...