CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Friday, July 3, 2009

JIN

" Sesungguhnya jin dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (Al Quran, surat Al A'raf : 27)

Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.


Apakah Jin itu?
Jin dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, "Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."(QS. Al A'raf 27).

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, "Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia."(HR Al Bukhari).
Asal kejadian Jin

Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al Hijr: 27). "Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar Rahman : 15).

Rasulullah bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum]." (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.




Mengubah bentuk

Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48.
Apakah jin juga mati?

Jin beranakpinakdan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50).

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: "Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati." (Bukhari: 7383, Muslim : 717)

Setan selalu mendampingi manusia

Sudah menjadi komitmen setan akan senantiasa menggoda manusia agar durhaka kepada Allah. Oleh karena itu setan terus menerus mengincar manusia, setiap saat menyertai manusia sehingga setan itu disebut pula sebagai qarin bagi manusia, artinya "yang menyertai" manusia. Setiap manusia disertai setan yang selalu memperdayakannya, bahkan manusia dan qarin-nya akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Allah berfirman, artinya: "Yang menyertai dia (qarin-nya) berkata (pula): "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh." (QS. Qaf: 27).

Jin (bahasa arab : جن ) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi "tersembunyi" atau "tidak terlihat". Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin adalah salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api.


Jin dalam Mitologi Arab pra-Islam
Dalam anggapan orang-orang sebelum Islam datang, Jin dianggap sebagia makhluk keramat, yang harus disembah dan dihormati. Para orang pada masa tersebut menggambarkannya dalam bentuk patung sesembahan mereka.
Jin dalam Islam

“Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr 15:27).

Dalam Islam, makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi).
Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.
Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.
“Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS Al-A’raf 7:27).
Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat tersebut di atas.
Dalam ayat lain Allah mempertegas:

“Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman 55:15). Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhahak berkata, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: Dari nyala api, ialah dari api murni.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: Dari bara api. (Ditemukan dalam Tafsir Ibnu Katsir). Dalilnya dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan(diceritakan) kepada kalian.” [yaitu dari air spermatozoa] (HR Muslim di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad).

Bagaimana wujud api itu, Al-Qur’an tak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kepada kita untuk menelitinya secara detail.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Syetan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Bukhari).
Jin dapat mengubah Bentuk

Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri, di mana salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (syetan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika suku Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi Muhammad SAW di Makkah. Kedua, dalam perang Badr pada tahun kedua Hijriah. (QS Al-Anfaal 8:48).
Jin dapat beranak-pinak

Jin beranak-pinak dan berkembang-biak (lihat surat Al-Kahfi, 18:50). Tentang apakah jin bisa meninggal atau tidak, ada pendapat bahwa jin hanya berkembang biak, tetapi tidak pernah meninggal. Benar atau tidak, wa Allahu a’lam. Namun menurut hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi Muhammad SAW berdo’a: “Ya Allah, Engkau tidak mati, sedang jin dan manusia mati…” (HR Bukhari 7383 – Muslim 717).
Habitat para Jin
Walaupun banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamannya juga ada. Di antaranya sama-sama mendiami bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian tinggal bersama manusia itu di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia.

Tempat yang paling disenangi jin adalah WC. Oleh sebab itu hendaknya kita berdoa waktu masuk WC yang artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) setan (jin) laki-laki dan setan (jin) perempuan.” (HR At-Turmudzi).
Syetan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci. Kuburan dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (Paranormal).

Nabi Muhammad SAW melarang kita tidur menyerupai syetan. Syetan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian syetan untuk mempermainkan auratnya dan menyebabkan timbulnya penyakit. Na’uzu billah min zaalik!
Qarin

Yang dimaksud dengan qarin dalam surat Qaaf 50:27 ialah yang menyertai. Setiap manusia disertai jin yang selalu memperdayakannya. Allah berfirman, artinya: “Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh’…” (QS Qaaf 50:27).

Manusia dan syetan qarinnya itu akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Dalam sebuah hadits (HR Ahmad) Aisyah ra mengatakan:Rasulullah SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?” “Apakah syetan bersamaku?” Jawabku. “Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad SAW. “Termasuk engkau juga?” Tanyaku lagi. “Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya.” Jawab Nabi (HR Ahmad).

Berdasarkan hadits ini, Nabi Muhammad juga ternyata didampingi syetan. Hanya syetan itu tidak berkutik terhadapnya. Lalu bagaimana mendeteksi keberadaan jin (misalnya di rumah kita), apa tanda-tanda seseorang kemasukan jin? Tidak ada cara atau alat yang bisa mendeteksi keberadaan jin. Sebab jin dalam wujud aslinya merupakan makhluk ghaib yang tidak mungkin dilihat manusia (QS Al-A’raf 7:27).

Tidak ada manusia yang bisa melihat jin, dan jika ada manusia yang mengklaim mampu melihat jin, maka orang tersebut sedang bermasalah. Bisa jadi dia mempunyai jin warisan atau pun jin hasil dia belajar. Kemampuan ini sebetulnya dalam Islam dilarang untuk dimiliki, dan termasuk dalam kategori bekerja sama dengan jin yang menyesatkan (QS Al-Jin 72:6).

Sesungguhnya, tidak ada cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan jin. Jangan meminta bantuan orang yang mempunyai ilmu terawang. Sebab kalau kita meminta bantuannya, kita berarti telah meminta bantuan dukun musyrik yang dalam Islam merupakan dosa besar, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

sumber: Al-Qur'an, ISMUBA
Selengkapnya...

Monday, June 22, 2009

Terkena Penyakit GILA Nomer 19

Gila gila gila, aku merasa jadi orang gila, bahagianya jadi orang gila, bebas tersenyum, bebas menangis, bebas berteriak, bebas berbicara, bebas bertingkah laku dan bebas berpakaian apa adanya.. ya begitulah gila sebenarnya,, namun ternyata definisi gila itu banyak macamnya.

Menurut ilmu psikologi orang gila adalah orang yang sarafnya rusak, lupa pada diri sendiri dan orang lain, tidak mempunyai rasa malu, lupa kewajiban, dan tidak sadar apakah yang dilakukannya itu merupakan sebuah kesalahan ataupun kebenaran.
Namun, aku sering mendengar orang berkata, “ gila kau” atau “mungkin dia telah menjadi orang gila”, lalu gila seperti apakah yang dimaksud disitu?



Emm.. ada sebuah cerita,,
Dulu sewaktu aku tinggal di sekitar kampung Kauman, ada orang gila yang sering berteriak-teriak mengumpat orang Kristen di samping Masjid Gedhe Kauman, namun umpatannya amat berbobot menurutku, seperti umpatan orang yang belajar kristologi dan teologi. Wah, orang waras pun belum tentu bisa berpikir seperti itu.

Kemudian aku pernah mendengar MH. Ainun najib berkata, “kalian ni jangan sampai kalah dengan orang gila, ada orang gila yang hafal surat yasin, yang keluar dari mulutnya adalah cuplikan-cuplikan surat Yasin, terus kalau ada sekumpulan orang yang hendak sholat jama’ah sedangkan tak ada orang waras yang mampu untuk menjadi imam, apakah kita harus mengangkat orang gila untuk menjadi Imam?”
Gila,,apakah gila itu?

Dulu Galileo Galilelei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat, bahwa bumi lah yang memutari matahari dianggap gila oleh gereja, kemudian dipenjara, padahal apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
Sewaktu Rosulullah pertama kali berdakwah pun beliau dianggap gila oleh kaumnya karena mengkhianati agama nenek moyang, padahal yang didakwahkannya adalah sebuah kebenaran.

Ternyata gila itu relatif.

Seseorang yang melakukan sesuatu di luar kebiasaan masyarakat dianggap gila, seseorang yang berpikir terhadap kemungkinan-kemungkinan kecil yang akan terjadi dianggap gila, seseorang yang menyatakan kebenaran dianggap gila, seseorang yang berkreasi pun bisa dianggap gila.

Dan entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa jadi orang gila versiku sendiri. Hatiku sangat sensitif, mudah sekali tertawa dan mudah sekali menangis, cara berpikirku pun berubah, lain dari biasanya. Apakah gerangan yang terjadi pada diriku sendiri, aku pun tak tahu. Yang ku tahu, semua itu terjadi karena bertumpuknya masalahku, yang ada dalam benakku hanya sebuah kalimat “aku harus bertahan”. Aku tak pernah mengalami suasana hati yang begitu rumit ini.

Apakah orang gila bisa mengatakan bahwa orang yang dilihatnya adalah orang gila pula?
Ah, aku sering melihat orang yang berbuat aneh, dalam hatiku aku berkata, “gila, bisa-bisanya dia berbuat........”.

Terngiang-ngiang lagu Sheila On 7
“ketidakwarasan padaku, selimut tebal hati rapuhku, aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar, aku tak kan senang saat sehatku datang.”

Yah, saat ku serasa menjadi orang gila, seolah-olah aku melihat diriku yang lain berkata

“Dasar! Miftah Bodoh, cewek lemah, dicoba gini aj ga kuat, ingat, al mu’minul qawiyyu khoirun wa ahabbu ilallahi minal mu’mini dho’ifi, mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah. Kamu ini kapan mau ningkat derajatnya kalau gini terus? Sial, kenapa aku harus mengenal orang sepertimu? Busuk, munafik, sombong, ga tahan banting, mati aja lah kamu, ga berguna....TANGiiiiiii!!! buka matamu Miftah, tegakkan kepalamu hadapi duniamu, perlama sujudmu, pasrah, rendahkan dirimu di depan Sang Pencipta.”



Suara itu, entah hendak mengejekku atau menasihatiku,
Yang ku tahu, biarlah aku mendengar suara-suara itu terus-menerus, birlah aku dikatakan gila, jika kegilaanku dapat membuatku mengingat Tuhanku, bila kegilaanku dapat mengurangi beban masalahku

Dan aku menamakan kegilaanku ini adalah penyakit gila nomor 19. Karena aku menderita penyakit ini di detik-detik menjelang usiaku yang beranjak 19 tahun.
Aku ingin menjadi keris mataram, ditempa beribu-ribu kali dengan besi pilihan, namun ia tetap bertahan, mungkin ia berteriak-teriak kesakitan ketika dipukul oleh empunya, ketika panas membakarnya, namun semua itu menjadikannya sebuah keris kuat lagi sakti. Penampilannya tak banyak berbeda dari keris lain, namun tempaan itu membuatnya gagah tak terkalahkan. Aku pun ingin berteriak, menangis sejadi-jadinya, aku berharap aku dapat bertahan, hingga suatu saat nanti aku akan menjadi orang kuat yang hebat. Amien.

Terima kasih Ya Allah, atas semua anugrah yang Kau berikan kepadaku, mungkin Kau ingin aku belajar, mungkin Kau ingin membuatku lebih dewasa, mungkin Kau ingin aku merasakan kasih sayangMu yang begitu besar. Dan ternyata, aku memang mencintaiMu ya Allah.


Selengkapnya...

Friday, May 8, 2009

Seni Jalanan

Teringat kisah Ikal dan Arai yang mengelilingi Eropa dengan uang hasil meminta di jalan, dalam buku Edensor karya Andrea Hirata. Mereka menggunakan kostum yang aneh untuk menyamarkan diri, ditambah dengan accesoris yang unik sebagai penarik perhatian. Tentunya mereka juga berkelakuan sesuai dengan peran yang mereka jalankan dan kostum yang mereka gunakan. Harus rela berdiri mematung selama ber jam-jam, menahan sakit ketika dicubit orang, dan tentunya harus siap menaggung malu. Ternyata meminta uang di jalan bukan sebuah pekerjaan yang rendah di Eropa, bahkan ada universitas yang secara khusus mengajarkan seni jalanan kepada para mahasiswanya.


Akhir-akhir ini saya melihat seni jalanan ala Indonesia. Yaitu dengan menggunakan kostum “jathilan” dan menari layaknya “jathilan” di tempat yang strategis, seperti di perempatan jalan Wonosari dan di bawah jalan layang Janti. Tidak hanya itu saja, mereka juga mengiringi tarian itu dengan musik dan gamelan yang khas. Walaupun hal ini mereka lakukan untuk meminta uang kepada pengguna jalan atas penampilan meraka, namun saya pikir hal ini harus mendapat perhatian yang serius dan perlu dikembangkan untuk melestarikan budaya. Sehingga kualitas seni jalanan Indonesia menjadi lebih bermutu dan bernilai tinggi.
Hingga detik ini, tidak banyak orang yang meminta di jalan dengan memperhatikan nilai seni dan budaya, sebagian besar dari mereka hanya bernyanyi ala kadarnya bahkan hanya dengan menengadahkan tangan. Walaupan ada juga yang bernyanyi dan bermain musik dengan hebatnya, sehingga kita sering menyebut mereka dengan istilah musisi jalanan. Menurut saya mereka tidak jauh berbeda dengan musisi kelas atas yang bernyanyi di atas panggung, sama-sama menjual suara dan ketrampilan bernyanyi. Jika suaranya bagus dan memiliki ketrampilan bernyanyi yang tinggi maka akan memperoleh banyak penghasilan, jika tidak maka hanya akan ditidakacuhkan.
Sepertinya jiwa peseni jalanan harus segera dibangkitkan kembali. Tentunya tidak terbatas pada seni suara dan musik, namun juga seni tari, sulap dan lain sebagainya. Topeng monyet dan ludruk itupun termasuk salah dua diantaranya. Jika hal ini dapat terwujudkan, insyaallah akan membuat jalanan menjadi lebih berwarna. Dan mungkin juga hal ini dapat menjadi sebuah hiburan bagi para pengguna jalan hingga mereka bisa menikmati perjalanan , mengurangi stress dan resiko kecelakaan.

Selengkapnya...

NASIB MEREKA

Banyak yang menganggap remeh orang yang mencari uang di jalanan. Posisi mereka direndahkan, dianggap perusak pemandangan dan pengganggu pengguna jalan. Bahkan kadang kita hanya memandang mereka sebelah mata ketika mereka menyodorkan topi untuk meminta sekeping koin dari saku kita. Dan cukup dengan ayunan tangan pertanda sebuah penolakan mereka akan segera pergi dari hadapan kita.
Memang benar kata pemerhati sosial,memberi uang kepada anak jalanan tidak baik untuk pendidikan dan hanya akan membuat mereka malas untuk bekerja. Pemerintah telah berusaha mengurangi ledakan anak jalanan dengan memberikan ketrampilan agar mereka dapat berwirausaha. Namun mengapa kebanyakan mereka lari ketika satgas mendatangi mereka untuk dibawa ketempat pelatihan? Dan mengapa mereka menolak fasilitas yang telah diberikan pemerintah?



Tentunya karena mereka merindukan kebebasan, kebebasan yang hanya dapat diperoleh ketika mereka hidup di jalanan. Tidak aturan yang mengikat.
Mungkin metode pendekatan yang dilakukan pemerintah kurang tepat. Jika program pelatihan ketrampilan tidak dapat mengurangi populasi anak jalanan, pemerintah seharusnya membuat program bagaimana anak jalanan dapat diberdayakan dan dididik dengan baik.
Seperti yang telah dilakukan lembaga sosial kemasyarakatan ataupun orang yang peduli terhadap nasib anak jalanan. Mereka tidak menjauhkan anak jalanan dari kehidupan di jalan, namun mereka memanfaatkan kehidupan di jalan untuk mendidik dan memberdayakan mereka. Sebagai contoh adalah mendirikan sekolah gratis di bawah jalan tol, mengajari mereka bermusik dan mengembangkan potensi diri.
Keras memang kehidupan di jalan, tak ada atap yang memayungi diri dari terik matahari dan derasnya hujan, tak ada kasur empuk tempat menghangatkan tubuh ketika tidur, belum lagi todongan preman kasar yang siap menguras isi kantong. Namun banyak juga dari mereka yang menikmati hidup di jalanan, jauh dari kemunafikan hidup, berpenampilan apa adanya, tanpa topeng pemalsu diri.
Saya sempat berpikir, mungkin hidup mereka lebih bahagia dari para pejabat tinggi, walaupun kemiskinan dan penderitaan terus menerus menerpa, namun mereka bersikap jujur, tidak lari dari kenyataan, tidak seperti pejabat yang kekayaannya menumpuk namun hatinya sempit, pintar memoles diri untuk menutupi kekurangan.
Dan ketahuilah, bahwa orang yang kaya itu dihisab paling akhir di hari perhitungan kelak, mereka bahagia di dunia namun belum tentu bahagia di akhirat.

Selengkapnya...

Thursday, May 7, 2009

Apakah Aku Terlalu Rakus dalam Menerima Amanah?

Selasa, 5 Mei 2009
Kuliah berakhir pada pukul 17.30, setelah sholat maghrib aku langsung menuju ke komsat IMM UGM, guna menyelesaikan LPJ musykom. Aku tahu, aku tak boleh pulang larut malam, jadi aku bergegas untuk pulang ketika jam menunjukkan pukul 19.30.
Perasaanku tidak enak, aku pamit kepada Febri, Auriza dan Mb Kitti dengan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kuperbuat, kalau-kalau aku mati di tengah jalan. Dan ternyata..

DUERRR...BRUUUK

Aaaaaaagggghhhh, aku disudruk motor, alias tertabrak,
Tapi alhamdulillah masih bisa bangun sendiri. Sebenarnya orang yang menabrakku mau memperbaiki kerusakan motorku di bengkel, tapi sudahlah, terburu malam, lebih baik aku pulang dan memperbaiki kerusakan motorku esok hari. Nekat aku ini, berani menaiki motor yang poroknya bengkok, yah, aku berjalan dengan motor yang oyag ayig amat pelan. Alhamdulillah selamat sampai rumah. Setelah lapor pada ortu, sholat dan mandi sensasi rasa sakitnya mulai kurasakan, hantaman keras tadi menyadarkanku akan suatu hal, dan aku mereview kegiatanku beberapa hari ini.


Jum’at , 1 Mei 2009

Aktifitasku dimulai dari kuliah, kemudian menyebar dan menempel poster seminar AJAX yang diadakan OMAH TI di UNY dan UIN bersama Icha. Huft, panas-panas menjelang jum’atan jalan bolak-balik muter UIN, belum lagi di FT UNY, seperti masuk kandang macan, harus menanggung malu karena dominasi kaum Adam, di FT UGM saja kaum hawa tidak begitu terasingkan.

Setelah berpanas-panas ria aku menuju ke GSP, menengok stand IMM UGM untuk MABA, alhamdulillah bertemu dengan anak Mu’allimaat yang keterima di UGM.

Kemudian langsung menuju ke jl Wonosari, takziyah ke tempat Pak Harwanto Dahlan bersama Dibie, dek Iqbal, mas Iip, Mas Zalik dan Dek Ima. Subhanallah, hebat Pak Harwanto Dahlan itu, pelayatnya banyak sekali, mulai dari politikus, ilmuwan, mahasiswa, aktifis, masyarakat kelas bawah sampai musisi sekelas Letto pun mengucapkan bela sungkawa melewati karangan bunga. Jarang ku temukan public figure yang bisa merangkul semua kalangan.
Sepulang dari takziyah, aku, Inung dan Dibie menuju rumahku, kami makan bersama dalam satu piring, nostalgia masa lalu. Setelah mereka pulang aku harus beres-beres rumah dan menyiapkan diri untuk RaKer IMM UGM yang kebetulan bertempat di rumahku.
Acara RaKer dimulai pukul 20.30. yah seperti RaKer pada umumnya, tidak ada yang begitu berkesan bagiku. Namun aku tetap senang karena bisa menjadi tuan rumah, bangga rasanya, rumahku turut mengukir sejarah perkembangan IMM UGM periode 2009/2010, dan tentunya hawa keintelektualitasan mereka dapat mengubah atmosphere rumahku.

Sabtu, 2 Mei 2009

Raker ini baru selesai pukul 02.00 dini hari, immawati langsung masuk ke kamar untuk bersiap tidur, sedangkan para immawan tergeletak di ruang tamu alias tempat raker. Terkecuali aku, Mb Kitti, Auladi, Auriza dan Bustan, kami menuju ke Musholla, aku dan Auladi mengerjakan tugas kalkulus, Auriza dan Mb Kitti disibukkan dengan laptop, sedangkan Bustan membaca komik.

Pukul 02.30 Bustan sudah terlelap di musholla, 15 menit kemudian disusul Mb Kitti yang masuk kamar. Musholla berukuran 4 x 3 tersebut tinggal 3 makhluk yang terbelalak matanya, aku melihat ke samping musholla ada ruang tamu tempat para immawan tidur, dan ke depan musholla ada kamar tempat immawati tidur.
Jeglek...Astagfirullah, aku baru sadar bahwa aku cewek seorang diri, oh TIDAAAK! Aku harus segera masuk kamar.
Jegrek..jegrek,
aku mencoba membuka pintu kamarku. Astaghfirullah, ternyata tak bisa dibuka, entah terkunci atau apa. Aneh, aku tidak bisa masuk pintu kamarku sendiri.
Hiks hiks, akhirnya aku meneruskan mengerjakan kalkulus bersama Auladi. Jika yang sebelumnya didengarkan adalah lagu Sheila on 7 guna mengusir kantuk, maka sekarang yang didengarkan adalah murattal al-Qur’an guna menjaga hati kami dan mengusir syeitan.

Auriza mulai menghempaskan diri bersama para immawan yang lain di ruang tamu,kini hanya tersisa aku dan Auladi yang masih terjaga, kami pun tetap menyibukkan diri dengan soal-soal kalkukus. Dalam hati aku berharap agar adzan subuh segera berkumandang, untuk memecah keheningan pagi.
Begitu Adzan terdengar, aku langsung membangunkan para immawati melewati jendela. Alhamdulillah suasana rumahku kembali ramai. Kami pun sholat subuh berjama’ah di ruang tamu. Seusai sholat subuh para immawan bersiap diri untuk pulang, sedangkan immawati mencuci piring dan gelas di dapur.
Setelah pamit dan mengucapkan terimakasih kepad ortuku mereka pulang, kecuali mas Ghif, Auladi, Auriza, Bustan dan Molly. Kami pun memanggil Erwan, alumni Mu’allimin yang rumahnya dekat rumahku. Akhirnya reunian deh, kumpul IKMAMMM82 ditambah mas Ghif yang alumni Gontor.

Suasana langsung berubah, canda tawa membahana, senyum menghiasi wajah kami. Ibuku membuatkan kopi dan membelikan kukis untuk mereka. Kemudian aku membantu ibuku untuk menyiapkan sarapan. Setelah persiapan selesai , aku memanggil mereka untuk masuk dan sarapan bersama. Namun setelah mereka masuk mereka tidak mau mengambil makan, tidak enak hati ku kira. Akhirnya aku dan Molly meladeni mereka mengambilkan nasi dan lauk..wahh, aku benar-benar memanjakan mereka, alhamdulillah di antara kami tidak ada perasaan apa-apa, jadi sudah terbebas dari virus cinta. Aku menyayangi mereka layaknya aku menyayangi teman cewekku, kami berkumpul layaknya saudara.

Pukul 08.00 mereka pulang kecuali Molly, aku segera mandi dan beras-beres rumah. Setelah kepulangan mereka kantuk dan lelah benar-benar ku rasakan, ingin sekali rasanya aku tidur, namun tak bisa karena harus menemani Molly ke Fak Pertanian. Sampai di Fak Pertanian mataku lengket, aku terkantuk-kantuk di kursi sembari menunggu Molly.

Pukul 12.00 aku harus menuju ke tempat Dibie, karena kami akan mengikuti aksi pelajar dalam Hardiknas yang diadakan oleh PW IPM DIY. Kami berkumpul di Mu’allimin, seharusnya aksi ini diikuti dengan berjalan kaki sepanjang 2-3 km dari Mu’allimin menuju kantor pos, tapi aku tahu, aku tak akan sanggup, melihat keadaan teman-temanku yang dihantui kelelahan, Molly tidak jadi ke Bantul mengikuti raker PD IPM karena capek, Auladi yang tertidur di Stand IMM UGM karena capek juga.
Akhirnya aku mengikuti aksi tersebut dengan menaiki motor. Niat hati tidak akan mengikuti aksi sampai selesai, namun setelah mendengar para orator berorasi dengan hebatnya, aku jadi mengurungkan diri untuk pulang, terbius kobaran semangat mereka.
Setelah aksi selesai aku langsung pulang, tidak mampir ke Mu’allimin dulu, setibaku di rumah

1
2
3
Bruuk
Aku pun telepar, lemes banget rasanya, sholat ashar masih sadar, namun ketika sholat maghrib dan isya’ kesadaranku kian melemah, langsung tergeletak di atas kasur, tidak bisa membantu teman-temanku di kampung untuk mengurusi pengajian anak-anak.

Ahad, 3 Mei 2009

Aku teringat akan kajian IMM, CSS UGM dan raker PC IPM BU, mata sudah bisa terbuka namun badan sulit untuk digerakkan. Harus dipaksakan, paksakan badanku untuk bergerak. Alhamdulillah dengan pengumpulan tenaga kembali aku berhasil mengikuti raker PC IPM BU sebagai prioritas dan meninggalkan kajian CSS serta IMM.
Di tengah-tengah raker, aku mendapatkan sms yang berisi undangan untuk kumpul IKMAMMM di Mu’allimin sore nanti. Astaghfirullah, aku harus paksakan badan sekali lagi. Aku mengajak Dibie, Molly dan dek Iqbak untuk kumpul IKMAMMM. Ah..ternyata Dibie pun terkapar di kamarnya, dek Iqbal pun tidak bisa karena ada acara, dan Molly..??? huft, ternyata teman-teman seperjuanganku sedang mencapai titik puncak kelelahan, aku pun merasa seperti itu.
Seusai raker aku kembali ke rumah sebentar untuk istirahat, dan setelah sholat Ashar langsung menuju ke Mu’allimin. Aku baru menginjakkan kakiku di rumah kembali pukul 20.00.

Senin, 4 Mei 2009

Kelelahan fisik sudah tidak begitu ku rasakan, namun kelelahan pikiran masih menggelayuti diriku. Untuk refreshing aku dan Dibie mengikuti kajian kristologi di PP Budi Mulia, dan baru tiba di rumah pukul 22.15

*****

Yupz, aku tersadar kembali. Kecelakaan itu membuatku harus mengubah jalan hidupku. Sebuah kalimat yang sering dilontarkan bapakku ketika aku berpamitan untuk mengikuti kegiatan di luar kuliah

“oalah diiiik, dik, kapan lemu arep leren ki? Mesakke awakmu kui lho”

Yah, aku faham, aku harus melepas salah satu amanat yang ada di pundakku. Aku harus ingat bahwa amanat terbesarku sekarang adalah kuliah, karena aku kuliah dibiayai negara yaitu Departemen Agama, jadi hasilnya harus ku pertanggungjawabkan pada negara.

Namun sulit juga untuk memutuskannya, karena aku merasakan suasana persahabatan, persaudaraan dan perjuangan yang kental ketika berada di tengah-tengah mereka, bukan material semata yang kucari, namun kenyamanan spiritual. Lalu apakah aku harus bertahan dengan kondisi seperti inihuhy? Ataukah harus meninggalkan amanat yang telah kupegang?



Selengkapnya...

Tuesday, April 14, 2009

BERKIBARLAH BENDERA IPM-KU



Ahad, 12 April 2009, ada sebuah moment berharga untukku, yaitu Pelantikan PC IPM Banguntapan Utara. Pelantikan yang aneh menurutku, karena yang namanya pelantikan tu ya yang ngurus pengurus lama, namun entah kenapa pelantikan kali ini yang ngurus pengurus baru. Jadi kami mengadakan acara untuk melantik diri kami sendiri(hahaha, lucu lucu)..

Terlepas dari semua itu, aku kembali menikmati perjuanganku. Hanya untuk melihat bendera IPM berkibar dengan gagahnya saat pelantikan, aku relakan diriku mengambil bendera IPM di kota Bantul, malam minggu pukul 7.

Bukan untuk pamer ataupun riya’. Aku hanya merindukan suasana itu, suasana haru dan bangga akan perjuangan yang ku rasakan bersama teman-teman di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah tercinta.

Akhirnya, bendara yang berlambang “putelot bujel” itu pun dapat berkibar dengan gagah di depan Aula Al-Muthi’in, sebuah tempat yang dulu merupakan tempat bermainku bersama saudara-saudaraku, dan kini dirombak menjadi sebuah aula milik yayasan Al-Muthi’in. Sekali lagi aku merasakan sebuah keanehan. Yayasan itu berdiri di atas tanah wakaf saudara-saudaraku, ketua yayasannya adalah pakdheku sendiri, yayasan terbesar kedua di Jogja, yang diketuai seorang ketua PC Muhammadiyah Banguntapan. Namun...yang didirikan adalah TKIT dan SDIT, disamping ada TPA dan kejar paket juga sih... hmm, bukannya aku membenci nama IT, hanya saja aku merasa kehilangan spirit of Muhammadiyah jika berurusan dengan nama IT,,dan karena yayasan diurus oleh orang Muhammadiyah, maka mereka memberanikan diri untuk meminta bantuan dana ke PP Muhammadiyah dan yang diutus adalah mahasiswa UAD yang sedang KKN di kampungku.

Dan tahukah kalian apa yang terjadi???

Yaah, jelas ditolak tho yoh..walaupun memintanya dengan jas orange khas UAD, pin IMM di dada, slayer Muhammadiyah di kepala dan segala tetek bengeknya. Secara lembaga pendidikan milik Muhammadiyah aja banyak yang kekurangan dana,,ehhh..ini kok IT berani-beraninya minta. Hehehe, tapi ya ga tahu kenapa, dana untuk membangun yayasan itu selalu adaa aja, mungkin yang berniat mendirikannya adalah orang yang bertaqwa, sehingga firman Allah “ma man yattaqiillaha yarzuqhu min haitsu laa yahtasib” pun berbicara.hahaha

Nah, oleh karena itu, bangga rasanya melihat bendera IPM bisa nampang di kawasan SDIT dan TKIT. Sekaligus memuhammadiyahkan kembali kampungku.(weh, lha kok fanatisme organisasi?)..emm, mungkin lebih tepatnya menjadikan warga kampungku menjadi pengikut nabi Muhammad SAW.(hehe, bedane opo?)

Selengkapnya...

Monday, April 6, 2009

Metode Dakwah

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
“Yassiruu walaa tu’assiruu, Basysyiruu walaa tunaafiruu”
(mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibuat lari)

Hikmah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah perkataan yang benar dan tegas yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Dalam Muhammadiyah ayat ini sudah sangat sering disampaikan dan menjadi dasar Muhammadiyah dalam berdakwah, sehingga terciptalah konsep dakwah cultural.
Dakwah Cultural adalah cara berdakwah dengan cara perdekatan budaya. Budaya, tradisi dan adat istiadat yang sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat dihargai, kemudian dikemas dengan nilai-nilai Islam sehingga lambat laun masyarakat dapat meninggalkan tradisi yang berbau TBC (takhayul, bid’ah, khurafat) dengan peribadatan sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosul.

Terkait masalah konsep dakwah cultural, terkhusus budaya selamatan, ada 3 opsi yang ditawarkan
1. Mendatangi acara selamatan, namun secara pelan-pelan harus dapat menjelaskan kepada masyarakat bahwa hal tersebut adalah bid’ah, dan berusaha merubahnya. Mungkin dengan mengkaji ayat-ayat dan dzikir yang dibaca, mengurangi 7harian menjadi 3harian, kemudian menjadi 1hari, dll.
2. Datang tapi terlambat, dalam artian tidak mengikuti tahlilan, namun hanya ceramahnya saja, sebagai kewajiban seorang muslim jika mendapat undangan. Namun, jika seperti ini, masyarakat kurang mendapat pemahaman.
3. Tidak datang, dengan maksud memberikan pelajaran bagi masyarakat bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini menimbulkan konsekwensi yang lebih besar, sebagai ganti tidak mengikuti setiap acara selamatan, orang tersebut harus pintar “srawung” dan bersosialisasi dengan masyarakat pada kesempatan yang lain.

Yang saya bingungkan di sini adalah, apakah cara tersebut efektif untuk menghilangkan tradisi masyarakat? Yogyakarta adalah kota tempat kelahiran Muhammadiyah dan Muhammadiyah pun amat berkembang pesat di Yogyakarta. Namun kenapa di Yogyakarta sendiri tradisi kejawennya masih tumbuh subur? Padahal KHA. Dahlan sendiri dulu tumbuh di lingkungan kraton, sungguh ironis.

kemudian jika kita terlalu apatis terhadap kebudayaan tersebut, maka justru orang non-Islam akan berteriak kegirangan karena mendapatkan kesempatan yang baik untuk memurtadkan orang Islam. Hal ini pernah terjadi di Jawa Timur. Ada sebuah desa yang kebudayaan selamatannya telah benar-benar menghilang, namun hal tersebut terjadi karena pemaksaan, bukan penyadaran. maka masyarakat pun mencari celah untuk dapat melestarikan apa yang diyakininya. dan moment ini dimanfaatkan missionaris, mereka mangadakan selamatan untuk orang Islam, namun yang dibaca bukannya dzikir islami, melainkan ayat-ayat injil yang berbahasa Arab. astaghfirullah

Guru saya berkata bahwa itulah proses, dan itulah yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk selalu dakwah amar ma’ruf nahi munkar, karena memang sulit sekali berhadapan dengan tradisi masyarakat. Mengingatkan anggota keluarga sendiri saja kadang kita tidak mampu.

Dan menurut teori dakwah, dakwah itu harus disesuaikan dengan objek yang didakwahi.
Jika orang yang kita dakwahi sudah mampu untuk menerima kebenaran seutuhnya maka katakanlah dengan tegas dan terang, namun jika orang yang kita dakwahi belum mempu untuk menerima kebenaran maka lakukanlah dakwah dengan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu.

Konsep ini juga pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau berdakwah di Makkah, yang pertama kali beliau lakukan adalah menanamkan iman dan tauhidullah di hati umatnya. Dan ketika beliau berdakwah di Madinah, beliau mulai menanamkan hukum-hukum agama, jihad, muammalah, dll. Hal tersebut dikarenakan oleh kondisi umat Islam di Madinah yang lebih siap menerima kebenaran dibanding kondisi umat Islam di Makkah. Dan dakwah nabi pun terbukti keberhasilannya.

Jika kita melihat pada sejarah masuknya Islam ke Indonesia, orang Indonesia pada umumnya menyukai Islam karena ajaran agama Islam yang tidak mengenal sistem kasta, penyebaran Islam dilakukan dengan jalan damai, upacara keagamaanya yang sederhana, dll. Walaupun telah memeluk Islam, umat Islam pada waktu itu masih sulit sekali meninggalkan tradisi animisme, dinamisme maupun ajaran Hindu Budha, sehingga dilakukanlah pendekatan-pendekatan kebudayaan. Seperti para Sunan yang mengundang orang untuk memeluk Islam dengan gamelan, wayang kulit yang dijadikan hiburan dikemas nilai Islam dengan diubahnya bentuk tubuh wayang kulit agar tidak terlalu menyerupai manusia, dll.

Dalam babad tanah jawa yang tersimpan di museum Belanda tercatat, bahwa Sunan Kalijaga berkata,
“ aku berharap agar umat Islam di masa mendatang dapat meluruskan apa yang aku perbuat sekarang”.
Yah, karena memang dakwah di masa dulu tidak akan diterima masyarakat jika langsung saklek, ekstrim dan tidak flexible.

Kemudian saya mencoba membandingkannya dengan proses penyebaran agama Kristen. Kebanyakan upacara agama kristen tidak murni dari agama Kristen tapi juga ada akulturasi budaya dengan agama Pagan (penyembah alam). Seperti hari Natal, tanggal 25 Desember diambil dari hari raya kaum Pagan. Dulu hari suci kaum Nasrani adalah hari Sabtu, kemudian digeser 1 hari hari Minggu yang merupakan harinya kaum Pagan untuk menyembah matahari ( SunDay=hari matahari).

Umat Kristen saat ini tampaknya tidak terganggu dengan hal semacam itu. Namun umat Islam sangat amat terganggu dengan akulturasi budaya Hindu Budha, animisme dinamisme ke dalam ajaran Islam, karena hal itu amat terkait dengan masalah aqidah.

Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah wali songo?
Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah Muhammadiyah?
Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah umat Islam pada umumya? Selengkapnya...