CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
Showing posts with label sekedar goresan. Show all posts
Showing posts with label sekedar goresan. Show all posts

Tuesday, February 23, 2010

Selamat Tinggal Cinta, Sampai Jumpa di Waktu yang Tepat


Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan kasih sayang. (Akhlak IV, Madrasah Mu’allimiin Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta)



Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagi jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia berikutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya. Dan, dengan penuh rasa syukur akhirnya manusia menyadari bahwa tidak ada cinta yang paling besar di dunia ini kecuali cinta sang pencipta kepada makhlukNya. Tidak pernah ada cinta yang bisa dimiliki oleh manusia, kecuali cinta Sang Pencipta yang tidak pernah berpaling dari manusia dan selalu mencintai makhluk terbaik ciptaanNya. Sang Pencipta tidak pernah memberi apa yang manusia pinta, seperti cinta... Dia memberi apa yang manusia butuhkan (5 CM)




Aku tak menyesal pernah mengenalmu cinta, walau kadang kau menyakitiku. Namun tetap ku ucapkan terima kasih kepadamu, karena dengan mengenalmu aku bertambah dewasa. Aku mulai memahami bahwa dirimu yang sebenarnya adalah pengejawantahan sifat rahman dan rahim-Nya kepada hambaNya...

Aku mencintaimu cinta, tak peduli, kepada siapa akan kuberikan cintaku ini...

Namun...

Maafkan aku cinta, aku harus meninggalkanmu untuk sementara waktu, ingin ku penuhi seluruh hatiku dengan cintaNya. Ingin ku gapai seluruh impianku, ingin ku bahagiakan orang tuaku. Hingga aku menjadi orang yang benar-benar pantas untukmu, cinta.

Kelak, aku akan kembali menjemputmu cinta, bahkan akan memaksamu untuk menerimaku...

Karena tanpamu, akan sulit untuk merasakan dan menyempurnakan cintaku padaNya

Selengkapnya...

Thursday, July 16, 2009

INILAH AKU

“aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan logika, aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku kehidupan yang ujung nya tak dapat disangka, aku ingin hidup yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. aku ingin hidup! merasakan sari pati hidup""(edensor)

Walau diriku harus terluka, tertusuk duri-duri tumbuhan liar yang tumbuh di gunung petualangan itu
Tak ku hiraukan darah yang mengalir menelusuri kulitku, hingga merah seluruh bajuku
Ketika tubuh ini letih, tak kuat untuk kembali berjalan
Aku sandarkan tubuhku pada pepohonan Hutan penggembaraan itu
Daunnya yang lebat rindangiku dari terik matahari, buahnya yang lezat menambahiku energi

Ketika malam datang
Tak tahu arah, aku melihat bintang-bintang di angkasa raya sana
Gugusannya terangi langkahku, tunjuki kemana tujuanku

Kadang aku takut
Karena binatang-binatang buas kehidupan siap menerkamku
Aaarrrghh, aku ingin berteriak minta tolong
Tapi tak ada yang mendengarku
Nyawa ku serahkan pada Rabb Sang Penguasa Kehidupan

Langkahku pun sering terhenti
Futur, sejenak membayangkan teman-teman di daratan kebahagiaan
Yang sedang menikmati hidupnya
Bersendau gurau, bersuka cita
Ingin aku turun, kembali bergabung dengan mereka
Tapi..ah, tidak, kuurungkan niatku, ku bulatkan tekadku

Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun telah berlalu
Badanku telah kurus kering, bajuku sobek-sobek, tubuhku penuh memar dan luka
tapi, aku telah berhasil mencapai puncak tantangan itu
aku bahagia, bisa mengenal mereka
teman-teman di hutan penggembaraan yang menemani setiap langkahku
bintang-bintang di angkasa raya yang terangi jalanku

fajar menyingsing
Di puncak itu, aku berteriak pada dunia

Heiiiiiii!!! Kalian!
Lihatlah aku dengan segala ke-aku-anku

jangan lihat bajuku yang sobek-sobek, jangan lihat penampilanku yang kumal usam
ya memang beginilah aku, tapi aku bangga dengan jerih payahku,
walau kadang ku menangis ketika tertusuk duri, berteriak karena takut dimangsa, namun syukur tetap ku panjatkan kepada Sang Penguasa Kehidupan, terima kasih Kau telah memberiku kesempatan dan kekuatan, untuk menikmati keindahan alam, dari puncak tantangan itu






Selengkapnya...

Monday, June 22, 2009

Terkena Penyakit GILA Nomer 19

Gila gila gila, aku merasa jadi orang gila, bahagianya jadi orang gila, bebas tersenyum, bebas menangis, bebas berteriak, bebas berbicara, bebas bertingkah laku dan bebas berpakaian apa adanya.. ya begitulah gila sebenarnya,, namun ternyata definisi gila itu banyak macamnya.

Menurut ilmu psikologi orang gila adalah orang yang sarafnya rusak, lupa pada diri sendiri dan orang lain, tidak mempunyai rasa malu, lupa kewajiban, dan tidak sadar apakah yang dilakukannya itu merupakan sebuah kesalahan ataupun kebenaran.
Namun, aku sering mendengar orang berkata, “ gila kau” atau “mungkin dia telah menjadi orang gila”, lalu gila seperti apakah yang dimaksud disitu?



Emm.. ada sebuah cerita,,
Dulu sewaktu aku tinggal di sekitar kampung Kauman, ada orang gila yang sering berteriak-teriak mengumpat orang Kristen di samping Masjid Gedhe Kauman, namun umpatannya amat berbobot menurutku, seperti umpatan orang yang belajar kristologi dan teologi. Wah, orang waras pun belum tentu bisa berpikir seperti itu.

Kemudian aku pernah mendengar MH. Ainun najib berkata, “kalian ni jangan sampai kalah dengan orang gila, ada orang gila yang hafal surat yasin, yang keluar dari mulutnya adalah cuplikan-cuplikan surat Yasin, terus kalau ada sekumpulan orang yang hendak sholat jama’ah sedangkan tak ada orang waras yang mampu untuk menjadi imam, apakah kita harus mengangkat orang gila untuk menjadi Imam?”
Gila,,apakah gila itu?

Dulu Galileo Galilelei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat, bahwa bumi lah yang memutari matahari dianggap gila oleh gereja, kemudian dipenjara, padahal apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
Sewaktu Rosulullah pertama kali berdakwah pun beliau dianggap gila oleh kaumnya karena mengkhianati agama nenek moyang, padahal yang didakwahkannya adalah sebuah kebenaran.

Ternyata gila itu relatif.

Seseorang yang melakukan sesuatu di luar kebiasaan masyarakat dianggap gila, seseorang yang berpikir terhadap kemungkinan-kemungkinan kecil yang akan terjadi dianggap gila, seseorang yang menyatakan kebenaran dianggap gila, seseorang yang berkreasi pun bisa dianggap gila.

Dan entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa jadi orang gila versiku sendiri. Hatiku sangat sensitif, mudah sekali tertawa dan mudah sekali menangis, cara berpikirku pun berubah, lain dari biasanya. Apakah gerangan yang terjadi pada diriku sendiri, aku pun tak tahu. Yang ku tahu, semua itu terjadi karena bertumpuknya masalahku, yang ada dalam benakku hanya sebuah kalimat “aku harus bertahan”. Aku tak pernah mengalami suasana hati yang begitu rumit ini.

Apakah orang gila bisa mengatakan bahwa orang yang dilihatnya adalah orang gila pula?
Ah, aku sering melihat orang yang berbuat aneh, dalam hatiku aku berkata, “gila, bisa-bisanya dia berbuat........”.

Terngiang-ngiang lagu Sheila On 7
“ketidakwarasan padaku, selimut tebal hati rapuhku, aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar, aku tak kan senang saat sehatku datang.”

Yah, saat ku serasa menjadi orang gila, seolah-olah aku melihat diriku yang lain berkata

“Dasar! Miftah Bodoh, cewek lemah, dicoba gini aj ga kuat, ingat, al mu’minul qawiyyu khoirun wa ahabbu ilallahi minal mu’mini dho’ifi, mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah. Kamu ini kapan mau ningkat derajatnya kalau gini terus? Sial, kenapa aku harus mengenal orang sepertimu? Busuk, munafik, sombong, ga tahan banting, mati aja lah kamu, ga berguna....TANGiiiiiii!!! buka matamu Miftah, tegakkan kepalamu hadapi duniamu, perlama sujudmu, pasrah, rendahkan dirimu di depan Sang Pencipta.”



Suara itu, entah hendak mengejekku atau menasihatiku,
Yang ku tahu, biarlah aku mendengar suara-suara itu terus-menerus, birlah aku dikatakan gila, jika kegilaanku dapat membuatku mengingat Tuhanku, bila kegilaanku dapat mengurangi beban masalahku

Dan aku menamakan kegilaanku ini adalah penyakit gila nomor 19. Karena aku menderita penyakit ini di detik-detik menjelang usiaku yang beranjak 19 tahun.
Aku ingin menjadi keris mataram, ditempa beribu-ribu kali dengan besi pilihan, namun ia tetap bertahan, mungkin ia berteriak-teriak kesakitan ketika dipukul oleh empunya, ketika panas membakarnya, namun semua itu menjadikannya sebuah keris kuat lagi sakti. Penampilannya tak banyak berbeda dari keris lain, namun tempaan itu membuatnya gagah tak terkalahkan. Aku pun ingin berteriak, menangis sejadi-jadinya, aku berharap aku dapat bertahan, hingga suatu saat nanti aku akan menjadi orang kuat yang hebat. Amien.

Terima kasih Ya Allah, atas semua anugrah yang Kau berikan kepadaku, mungkin Kau ingin aku belajar, mungkin Kau ingin membuatku lebih dewasa, mungkin Kau ingin aku merasakan kasih sayangMu yang begitu besar. Dan ternyata, aku memang mencintaiMu ya Allah.


Selengkapnya...