CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Tuesday, April 14, 2009

BERKIBARLAH BENDERA IPM-KU



Ahad, 12 April 2009, ada sebuah moment berharga untukku, yaitu Pelantikan PC IPM Banguntapan Utara. Pelantikan yang aneh menurutku, karena yang namanya pelantikan tu ya yang ngurus pengurus lama, namun entah kenapa pelantikan kali ini yang ngurus pengurus baru. Jadi kami mengadakan acara untuk melantik diri kami sendiri(hahaha, lucu lucu)..

Terlepas dari semua itu, aku kembali menikmati perjuanganku. Hanya untuk melihat bendera IPM berkibar dengan gagahnya saat pelantikan, aku relakan diriku mengambil bendera IPM di kota Bantul, malam minggu pukul 7.

Bukan untuk pamer ataupun riya’. Aku hanya merindukan suasana itu, suasana haru dan bangga akan perjuangan yang ku rasakan bersama teman-teman di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah tercinta.

Akhirnya, bendara yang berlambang “putelot bujel” itu pun dapat berkibar dengan gagah di depan Aula Al-Muthi’in, sebuah tempat yang dulu merupakan tempat bermainku bersama saudara-saudaraku, dan kini dirombak menjadi sebuah aula milik yayasan Al-Muthi’in. Sekali lagi aku merasakan sebuah keanehan. Yayasan itu berdiri di atas tanah wakaf saudara-saudaraku, ketua yayasannya adalah pakdheku sendiri, yayasan terbesar kedua di Jogja, yang diketuai seorang ketua PC Muhammadiyah Banguntapan. Namun...yang didirikan adalah TKIT dan SDIT, disamping ada TPA dan kejar paket juga sih... hmm, bukannya aku membenci nama IT, hanya saja aku merasa kehilangan spirit of Muhammadiyah jika berurusan dengan nama IT,,dan karena yayasan diurus oleh orang Muhammadiyah, maka mereka memberanikan diri untuk meminta bantuan dana ke PP Muhammadiyah dan yang diutus adalah mahasiswa UAD yang sedang KKN di kampungku.

Dan tahukah kalian apa yang terjadi???

Yaah, jelas ditolak tho yoh..walaupun memintanya dengan jas orange khas UAD, pin IMM di dada, slayer Muhammadiyah di kepala dan segala tetek bengeknya. Secara lembaga pendidikan milik Muhammadiyah aja banyak yang kekurangan dana,,ehhh..ini kok IT berani-beraninya minta. Hehehe, tapi ya ga tahu kenapa, dana untuk membangun yayasan itu selalu adaa aja, mungkin yang berniat mendirikannya adalah orang yang bertaqwa, sehingga firman Allah “ma man yattaqiillaha yarzuqhu min haitsu laa yahtasib” pun berbicara.hahaha

Nah, oleh karena itu, bangga rasanya melihat bendera IPM bisa nampang di kawasan SDIT dan TKIT. Sekaligus memuhammadiyahkan kembali kampungku.(weh, lha kok fanatisme organisasi?)..emm, mungkin lebih tepatnya menjadikan warga kampungku menjadi pengikut nabi Muhammad SAW.(hehe, bedane opo?)

Selengkapnya...

Monday, April 6, 2009

Metode Dakwah

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
“Yassiruu walaa tu’assiruu, Basysyiruu walaa tunaafiruu”
(mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibuat lari)

Hikmah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah perkataan yang benar dan tegas yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Dalam Muhammadiyah ayat ini sudah sangat sering disampaikan dan menjadi dasar Muhammadiyah dalam berdakwah, sehingga terciptalah konsep dakwah cultural.
Dakwah Cultural adalah cara berdakwah dengan cara perdekatan budaya. Budaya, tradisi dan adat istiadat yang sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat dihargai, kemudian dikemas dengan nilai-nilai Islam sehingga lambat laun masyarakat dapat meninggalkan tradisi yang berbau TBC (takhayul, bid’ah, khurafat) dengan peribadatan sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosul.

Terkait masalah konsep dakwah cultural, terkhusus budaya selamatan, ada 3 opsi yang ditawarkan
1. Mendatangi acara selamatan, namun secara pelan-pelan harus dapat menjelaskan kepada masyarakat bahwa hal tersebut adalah bid’ah, dan berusaha merubahnya. Mungkin dengan mengkaji ayat-ayat dan dzikir yang dibaca, mengurangi 7harian menjadi 3harian, kemudian menjadi 1hari, dll.
2. Datang tapi terlambat, dalam artian tidak mengikuti tahlilan, namun hanya ceramahnya saja, sebagai kewajiban seorang muslim jika mendapat undangan. Namun, jika seperti ini, masyarakat kurang mendapat pemahaman.
3. Tidak datang, dengan maksud memberikan pelajaran bagi masyarakat bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini menimbulkan konsekwensi yang lebih besar, sebagai ganti tidak mengikuti setiap acara selamatan, orang tersebut harus pintar “srawung” dan bersosialisasi dengan masyarakat pada kesempatan yang lain.

Yang saya bingungkan di sini adalah, apakah cara tersebut efektif untuk menghilangkan tradisi masyarakat? Yogyakarta adalah kota tempat kelahiran Muhammadiyah dan Muhammadiyah pun amat berkembang pesat di Yogyakarta. Namun kenapa di Yogyakarta sendiri tradisi kejawennya masih tumbuh subur? Padahal KHA. Dahlan sendiri dulu tumbuh di lingkungan kraton, sungguh ironis.

kemudian jika kita terlalu apatis terhadap kebudayaan tersebut, maka justru orang non-Islam akan berteriak kegirangan karena mendapatkan kesempatan yang baik untuk memurtadkan orang Islam. Hal ini pernah terjadi di Jawa Timur. Ada sebuah desa yang kebudayaan selamatannya telah benar-benar menghilang, namun hal tersebut terjadi karena pemaksaan, bukan penyadaran. maka masyarakat pun mencari celah untuk dapat melestarikan apa yang diyakininya. dan moment ini dimanfaatkan missionaris, mereka mangadakan selamatan untuk orang Islam, namun yang dibaca bukannya dzikir islami, melainkan ayat-ayat injil yang berbahasa Arab. astaghfirullah

Guru saya berkata bahwa itulah proses, dan itulah yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk selalu dakwah amar ma’ruf nahi munkar, karena memang sulit sekali berhadapan dengan tradisi masyarakat. Mengingatkan anggota keluarga sendiri saja kadang kita tidak mampu.

Dan menurut teori dakwah, dakwah itu harus disesuaikan dengan objek yang didakwahi.
Jika orang yang kita dakwahi sudah mampu untuk menerima kebenaran seutuhnya maka katakanlah dengan tegas dan terang, namun jika orang yang kita dakwahi belum mempu untuk menerima kebenaran maka lakukanlah dakwah dengan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu.

Konsep ini juga pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau berdakwah di Makkah, yang pertama kali beliau lakukan adalah menanamkan iman dan tauhidullah di hati umatnya. Dan ketika beliau berdakwah di Madinah, beliau mulai menanamkan hukum-hukum agama, jihad, muammalah, dll. Hal tersebut dikarenakan oleh kondisi umat Islam di Madinah yang lebih siap menerima kebenaran dibanding kondisi umat Islam di Makkah. Dan dakwah nabi pun terbukti keberhasilannya.

Jika kita melihat pada sejarah masuknya Islam ke Indonesia, orang Indonesia pada umumnya menyukai Islam karena ajaran agama Islam yang tidak mengenal sistem kasta, penyebaran Islam dilakukan dengan jalan damai, upacara keagamaanya yang sederhana, dll. Walaupun telah memeluk Islam, umat Islam pada waktu itu masih sulit sekali meninggalkan tradisi animisme, dinamisme maupun ajaran Hindu Budha, sehingga dilakukanlah pendekatan-pendekatan kebudayaan. Seperti para Sunan yang mengundang orang untuk memeluk Islam dengan gamelan, wayang kulit yang dijadikan hiburan dikemas nilai Islam dengan diubahnya bentuk tubuh wayang kulit agar tidak terlalu menyerupai manusia, dll.

Dalam babad tanah jawa yang tersimpan di museum Belanda tercatat, bahwa Sunan Kalijaga berkata,
“ aku berharap agar umat Islam di masa mendatang dapat meluruskan apa yang aku perbuat sekarang”.
Yah, karena memang dakwah di masa dulu tidak akan diterima masyarakat jika langsung saklek, ekstrim dan tidak flexible.

Kemudian saya mencoba membandingkannya dengan proses penyebaran agama Kristen. Kebanyakan upacara agama kristen tidak murni dari agama Kristen tapi juga ada akulturasi budaya dengan agama Pagan (penyembah alam). Seperti hari Natal, tanggal 25 Desember diambil dari hari raya kaum Pagan. Dulu hari suci kaum Nasrani adalah hari Sabtu, kemudian digeser 1 hari hari Minggu yang merupakan harinya kaum Pagan untuk menyembah matahari ( SunDay=hari matahari).

Umat Kristen saat ini tampaknya tidak terganggu dengan hal semacam itu. Namun umat Islam sangat amat terganggu dengan akulturasi budaya Hindu Budha, animisme dinamisme ke dalam ajaran Islam, karena hal itu amat terkait dengan masalah aqidah.

Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah wali songo?
Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah Muhammadiyah?
Lalu dimana letak kesalahan metode dakwah umat Islam pada umumya? Selengkapnya...

Sunday, March 29, 2009

Sang penyejuk hati

Kenapa dia sangat menghormatiku???

Jika aku menghormatinya setinggi gunung maka dia akan menghormatiku setinggi langit

Aku capek, harus menjadi orang dewasa, yang bisa mengayomi teman-temanku

Tersenyum di bawah penderitaan, untuk melihat mereka tersenyum

“tabassumuka fi wajhi akhiika shadaqah”
Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah

Yaa, aku hanya mencoba mengamalkan hadits di atas, untuk mengharap ridho Allah
Namun, aku lelah jika harus selalu mendengar keluh kesah mereka, sedangkan keluh kesahku tak dapat ku keluarkan.

Setiap orang memiliki sisi kedewasaan dan sisi kekanak-kanakan.

Kadang aku ingin dianggap sebagai anak kecil yang disayangi dan dimanjakan.
Dan harapan ini kutambatkan kepadanya.

Dia yang dapat menenangkan hatiku, walau jarang ku dengar suaranya, walau jarang ku lihat wajahnya, hanya dengan membaca tulisannya.

Astaghfirullahal ‘adziim

Tak ada kata yang dapat ku ucapakan, hanya senyum dan anggukan yang keluar dariku dan darinya ketika kita bertemu. Yah, dia amat sangat menghormatiku, padahal aku amat sangat mengaguminya.

Aku membutuhkannya

ketika jiwaku tergoncang, melihat senyumnya seakan-akan goncangan itu hanya mengayun lembut tubuhku.

Ketika diriku tertekan, aku membayangkannya berjalan ke arahku, berusaha untuk menghiburku. Walau hanya dalam bayangan, namun auranya dapat ku rasakan.

Dalam kebahagiaan pun, aku ingin membagi perasaan itu dengannya.
Ah, selama ini aku hanya bertahan dengan kekuatan impian itu.

Berharap kepada manusia harus berani menanggung resiko kecewa dan putus asa, dan aku tak mau merasakannya.

Harapan itu kini kutambatkan kepada Allah Sang Pencipta, melewati do’a, aku meminta
“ ya Allah, jadikanlah dia penyejuk hatiku, setelah kalam-Mu dan cinta-Mu”
Amien..
Selengkapnya...

Friday, March 27, 2009

Musykom IMM UGM


href="file:///C:%5CUsers%5Cmiftah%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml">

Indah bukan pemandangan di atas?? Subhanallah walhamdulillah..walaa ilaaha illallah..wallahu akbar

Ku ceritakan pada kalian

Jum’at 20 Maret 2009, pukul 22.00 aku baru pulang ke rumah, seusai menunaikan amanah di mu’allimaat dan IMM, belum istirahat sejak pukul 7 pagi diriku ini, sampai di rumah masih harus dihadapkan dengan menumpuknya tugas, dan mata ini baru terpejam pukul 02.00 sabtu dini hari.

Sabtu 21 Maret 2009, sebetulnya aku harus stand by di masjid Al iman pukul 7 pagi, namun karena harus mempersiapkan surat dan mengeprintnya baru pukul 8 aku sampai di Masjid Al-iman, dan baru berangkat setelah pukul 9.00. Rombongan musykom ini terdiri dari atika, molly, miftah, mb Luluk, mas ghifari, mas malik, yusro, wisda, mb dania, mb kiti, mb izza, wahyu, ulum, mb qalbi, dll.

Perjalanan yang lama pun kian bertambah lama, karena untuk sekian kalinya anggota dari rombongan tersesat dan terpisah, sehingga harus saling menunggu dan mencari, tapi kelelahan dalam perjuangan pun dapat terobati dengan indahnya pemandangan di sekeliling jalan menuju Mangunan, Bantul.

Aku suka perjalanan ini, penuh tantangan, melewati jalanan yang terjal dan berkelak-kelok, naik turun bukit, diiringi dengan merdu suara burung dan roda motor yang bergesekan dengan batu kerikil.

Lokasi musyawarah komisariat benar-benar berada di pucuk bukit, tak ada lagi tempat yang lebih tinggi dari itu sejauh mata memandang, deburan ombak di laut selatan pun terlihat berkejar-kejaran,,tak henti-hentinya aku mengucap subhanallah!!!

Pembukaan dimulai selepas sholat dhuhur, dilanjutkan dengan pleno 1 yaitu pembahasan tata tertib,,,sepertinya alam turut memeriahkan musykom kali ini, sekitar pukul 14.00 hujan mulai mengguyur lokasi musykom, hujan deras yang diiringi dengan badai. Tentunya kalian dapat membayangkan, biasanya angin di daerah kota atau dataran rendah tidak terlalu kencang, karena ada pohon dan bangunan tinggi yang menahannya, namun ini di dataran tinggi kawan, tidak ada yang dapat menahan kerasnya angin dan badai. Karuan saja pohon-pohon begitu keras berayun-ayun mengikuti arah angin, suara kerikil dan batu yang terangkat pun terdengar amat keras di atap sana, dan bocorlah bangunan yang kami gunakan.

Otomatis Pleno pertama pun ditunda, ada suasana kepanikan yang muncul, karena tempatnya banjir, air hujan masuk melalui celah-celah pintu dan jendela, belum lagi atap yang bocor, air masuk layaknya pancuran, barang-barang mulai diungsikan ke tempat yang aman.

Aku perhatikan teman-temanku yang berjuang di pendopo, Auriza, Devit dan Bustan.. ah kasihan sekali mereka, tentunya angin langsung menerpa tubuh karena tak ada tembok yang menghalangi, dingin yang merasuk ke sumsum tulang, dan badan yang basah karena terkena hujan. Tapi entah mengapa, aku justru amat menikmati situasi ini. Rasanya aku ingin memanjat ke pohon yang tertinggi, mengikuti ayunan angin sambil bernyanyi. Jiwa liarku pun bangkit kembali, andaikata aku membawa cukup ganti, pasti aku akan melakukannya. Tak peduli apa kata orang..hiks hiks, namun aku hanya dapat membayangkannya, ingin sekali ku berteriak, melepaskan kepenatan yang selama ini menghantui.

Ah, tapi aq cukup senang, lama sudah aku tidak menjumpai kondisi seekstrim ini.

kami pindah ke lokasi yang lebih rendah pukul 16.00, dan saat itu banyak anggota komisariat yang baru datang dari kota Jogja. Rapat Pleno 1 pun dilanjutkan, kemudian diteruskan dengan Pleno 2 yang berupa laporan pertanggungjawaban.

dan tahukan kalian, sampai jam berapa kita melakukan Pleno 2?

Sampai jam 3 pagi kawan..

Dan itu pun tinggal beberapa orang yang tersisa, yang lain pada memejamkan mata dan menghangatkan diri...

Setelah sholat subuh pun aktifitas kembali seperti semula, berfoto-foto sejenak kemudian melanjutkan sidang pleno ke-3 dan ke-4, tak ada yang begitu berkesan dalam sidang pleno kali ini, sama seperti musyawarah-musyawarah yang ku ikuti selama ini.

Ternyata acara yang diagendakan dapat selesai siang pun molor hingga sore hari, aku ingat akan amanahku untuk mengajar di Mu’allimaat, sehingga harus pulang mendahului yang lain. Aku pulang bersama Atika dan Wisda, sekali lagi, dalam perjalanan yang jauh pada kali ini aku hanya bermodalkan nekad dan berani bertanya,,,hah, dan benar rupanya, aku lupa jalan pulang, awalnya sih hanya menggunakan insting untuk menentukan arah, namun aku merasa telah jauh tersesat. Dan bertanyalah aku pada penduduk setempat. Aku mengikuti arah yang diberitahukan penduduk tadi, namun aku merasa jalan yang ku lalui sekarang berbeda dengan jalan waktu berangkat.

Kok rasanya kemarin ga sejauh ini untuk mencapai jalan raya?

Hah, namun aku terus melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk penduduk tadi..alhamdulillah, tersesat membawa nikmat, pemandangan yang ku dapatkan ketika pulang jauh lebih indah ketika waktu berangkat, jalanannya lebih terjal dan menantang, subhanallah, aku benar-benar terpana, indaah sekali pemandangan yang ku lihat, ingin sekali aku beristirahat sejenak sekedar untuk menikmati pemandangan yang amat indah itu, aku hanya bisa mengurangi kecapatan motorku karena harus segera mencapai Jogja. Namun ada satu hal yang bisa kulakukan, yaitu berteriak, sepi lenggang, tak ada yang mendengar kecuali Atika, tidak menggema pula suaraku itu, Wisda juga sepertinya terkantuk-kantuk di belakang sana...ah aku merasakan bebas,,

Sampai di Jogja Adzan mahrib berkumandang, kami sholat di Masjid Gede Kauman, wah, aku mulai merasakan detik-detik terakhir sisa energiku, Wisda dan Atika pun merasakan hal yang sama. Setelah itu aku mengantarkan Atika sampai ke kosannya, kemudian kembali ke Mu’allimaat untuk mengajar. Dalam perjalanan, aku mulai mereview kegiatanku dalam beberapa hari terakhir, tidur larut malam, energi banyak yang terkuras, dan benar-benar mencapai puncak kelelahan setelah musykom. Aku tidak yakin dapat mengajar dengan baik di Asrama Maryam Mu’allimaat. Hanya keinginan untuk melaksanakan amanah yang membawaku dapat mencapai Asrama Maryam.

Ting tong, ting tong!!

Aku membunyikan bel asrama,

ah, ternyata anak-anak belum siap, sekalian menunggu waktu isya’ kata mereka. Aku langsung menuju kamar ustadzah, yang tidak lain adalah teman sekelasku dulu, Santi. Astraghfirullah, ternyata tulangku tak kuat lagi untuk menyangga badan, terbujur langsung aku di atas kasur temanku, dan terpejamlah mata. Benar-benar tak sadarkan diri, santi membangunkanku ketika anak-anak sudah siap untuk diajar.

Laa haula walaa kuwwata illa billah, aku mencoba mengumpulkan segenap energi yang tersisa. Sering aku mengajar dalam keadaan lelah, namun baru kali ini aku mencoba mengajar dalam keadaan tak bertenaga, hanya semangat yang tersisa di jiwa..benar-benar seperti kesurupan aku ini, aku hampir tak sadar apa yang telah kuucapkan pada anak-anak didikku, namun senyum mereka seperti membangkitkan jiwaku. Entah kenapa mereka tiba-tiba menjadi murid yang sangat baik, tidak seperti biasanya, kini menjadi mudah diatur dan dipahamkan. Mereka membantuku walau hanya sekadar menghapus papan tulis dan mengambilkan spidol.

Alhamdulillah satu amanah selesai, aku pulang ke rumah dalam keadaan tak karuan, padahal esok hari aku harus presentasi. Alhamdulillah kuucapkan selalu, justru dalam keadaan terjepit dan terdesak seperti ini aku merasakan benar cinta Allah lewat pertolangan-Nya. Ya Allah, aku sangat amat mencintai-Mu...Aku tak tahu, sampai kapan tubuh ini bisa bertahan. Semoga pertolongan Allah dapat kurasakan selalu. amien..

Selengkapnya...

Wednesday, March 18, 2009

sebuah keutuhan

Diriku kini terikat 7 ikatan
Hanya menunggu kain kafan
Lengkap sudah
Dan siap untuk disholatkan

1 ikatan melingkar di leherku, jika ditarik, putuslah kepalaku
1 ikatan melilit di perutku, jika ditarik, terburailah ususku
4 ikatan mengunci tangan dan kakiku, jika ditarik, patahlah tangan dan kakiku
1 ikatan membelenggu otakku, jika ditarik, matilah aku

Ah, hiperbolis mungkin
Namun memang ku sering mendapati diriku dalam keadaan tercerai berai

Hanya dalam kesendirian
Aku merasakan utuh diriku
Sebuah keutuhan
Ketika mata dapat menangis dan hati tersenyum
Menangis mata karena dosa
Sedang hati tersenyum karena merasakan cinta Sang Pencipta

Dalam keramaian
Aku kehilangan keutuhan itu
Wajah ceria namun jiwa menjerit
Ceria oleh canda tawa
Menjerit karena nurani menahan sakit

Wahai kesendirian
Kaulah teman sejatiku
Yang selalu berada di sampingku, saat kesedihan menerpa diri
Dan saat tanah menjadi rumah bagi jiwa yang mati

Wahai keramaian
Aku tak tahu, bagaimana harus menempatkanmu
Karena aku adalah manusia, yang tak mungkin hidup tanpamu

Duhai Robbku
Izinkanlah aku menemukan keutuhan itu, merasakan hangat cinta-Mu
Di setiap waktu

Amien..
Selengkapnya...

Saturday, February 21, 2009

Menghidupkan Tradisi Lama

Cara terbaik untuk mewarisakan nilai-nilai moral kepada anak adalah lewat keluarga. Karena dari keluarga itulah terjalin hubungan emosi yang kuat antara anak dan orang tua. Transfer nilai pun bermacam-macam medianya, bisa lewat dongeng sebelum tidur, permainan, nyanyian, contoh perilaku baik dari keluarga dan lain-lain.

Disini saya akan membahas nilai-nilai yang terkandung dalam lagu(tembang) dolanan bocah “ Sluku-sluku Bathok”. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa tembang itu hanya tembang biasa yang tak berarti, namun perlu diketahui, bahwa orang-orang zaman dahulu senang sekali menyelipkan nilai-nilai moral pada kesenian, karena lebih bisa diterima orang. Tidak ada kata “menggurui” dan “sok suci”, karena dalam kesenian semua orang senang dan bisa menikmati. Termasuk pada tembang “Sluku-Sluku bathok”.

Tembang Sluku Sluku Bathok

Sluku sluku bathok

Bathoke ela elo

Si Rama menyang Solo

Oleh-olehe payung mutho

Pak Jenthit lolo lo bah

Yen mati ora obah

Yen obah medeni bocah

Yen urip goleko dhuwit

Sluku-Sluku Bathok (kepala): kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya. Kalo diforsir terus bisa aus, stress, hang, macet daya pikirnya

Bathoke ela elo: dengan cara berdzikir (ela-elo=laa ilaaha illallah), mengingat Allah akan mengendurkan syaraf neuron di otak

Si Rama menyang Solo: siram (mandilah, bersuci) menyang(menuju) Solo (Sholat). Lalu bersuci dan dirikanlah sholat. “jadikanlah sholat itu sebagai istirahatmu. Lalu apa fadhilah sholat?

Oleh-olehe payung mutho: yang sholat akan mendapat perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita. Kalau allah sudah melindungi, tak ada seseuatupun di dunia ini yang berkuasa menyakiti kita, tak satu pun.

Pak Jenthit lolo lo bah: kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu. Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat. Sehingga saat kita hidup kita harus senantiasa siap dan waspada. Selalu mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati.

Yen mati ora obah: orang yang mati itu tidak bisa bergerak, hanya terdiam kaku, terbujur sempit di kotak 1x2m.

Yen obah medeni bocah: saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang. Banyak yang ingin minta dihidupkan tapi Allah tidak mengizinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya menakutkan dan mudharatnya akan lebih besar.

Yen urip goleko duwit: kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini. Saat masih hidup. Ingin kaya, mambantu orang lain, membahagiakan orang tua, sekarang lah saatnya. Ketika uang dan harta benda masih bisa menyumbang bagi tegaknya agama Allah. Sebelum terlambat, sebelum segala kesempatan ditutup.

Cara bermain sluku-sluku bathok

Permainan ini biasa dimainkan atau diajarkan untuk anak kecil. Pertama kali anak kecil disuruh untuk duduk selonjor (meluruskan kedua lutut ke depan), kemudian kedua tangannya memegang lutut. Lalu kedua tangan di majumundurkan dari lutut hingga ujung jari kaki, bersamaan dengan itu dia harus menyanyi atau melantunka syair-syair di atas, sampai dengan selesai.

Permainan ini dimaksudkan untuk memberi hiburan kepada anak kecil agar tidak rewel, ada berbagai variasi dalam permainan ini, tergantung daerahnnya masing-masing.

Ketika orang tua sedang menyanyikan syair tersebut biasanya duduk berbaring di dekat anak, dia pura-pura meninggal, lalu anak akan berusaha membangunkan orang tuanya yang meninggal.

Ketika orang tua tidak bangun, maka si anak akan merasa sedih, setelah lama diam, mendadak orang tua bangun dan ini membuat anak terkejut, biasanya anak akan langsung terkekeh-kekeh.

Nah. Setelah anak bisa dikendalikan, orang tua mulai bisa menanamkan nilai moral kepada anak, menerangkan apa maksud yang terkandung pada tembang itu kepada anak. Jika hal ini sering dilakukan, maka insyaallah akan membekas pada hati anak.

Selengkapnya...

Wednesday, February 18, 2009

Mubes CSS Vs Kongres IKMAMMM



Tanggal 14-15 Februari 2009 aku mengikuti 2 acara permusyawaratan yaitu Musyawarah Besar Community of Santri Scholars 0f Ministry of Religius Affairs UGM (Mubes CSS MORA) dan Kongres Ikatan Keluarga Abiturien Mu’allimin Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta (Kongres IKMAMMM)

Acara Mubes CSS diadakan di Balai Kinanti UGM jam 08.00-15.30. senang rasanya ketemu dengan teman-teman yang dulu pernah tinggal satu atap denganku selama 2 bulan. Selain membahas tentang GBHK dan pemilihan ketua CSS UGM yang baru, acara ini juga mensosialisasikan hasil munas CSS di PP Sunan Pandanaran tanggal 5-7 Februari dan hiburan. Pemilihan diawali dengan penyampaian visa misi kandidat diikuti dengan tanya jawab, dan pada akhirnya terpilihlah mas Faishol untuk menggantikan mas Khoisol. Hiburannya hanya nyanyian yang diiringi musik akustik, namun aq cukup senang karena yang menyanyi adalah kakak kelasku di Mu’at Mb Sofi Nuria Melati dan yang dinyanyikan adalah lagu untuk Palestina yang menyayat hati “we will not go down”.

Seperti yang diketahui umum, bahwa yang namanya Ministry of Religious Affairs (boso jowone “Departemen Agama”) itu didominasi oleh orang nahdhiyyin. Nah, di Mubes ini, aku harus menempatkan diriku sebaik mungkin, tidak boleh ada fanatisme organisasi untuk dapat membangun persaudaraan yang solid di antara santri DepAg. Aku harus berusaha memahami perbedaan dasar yang ada pada santri Depag, ada yang dari pondok NU, Muhammadiyah, Persis, PKS, maupun yang netral. Sering aku berdiskusi dengan mereka untuk menambah wawasanku, yang paling parah selama 4,5 jam. Selama ini aku memang hidup di lingkungan Muhammadiyah, aku memang belajar tentang perbedaan itu, namun dari tokoh Muhammadiyah. Berdiskusi dengan mereka secara langsung itu lebih seru, pengetahuannya benar-benar fresh dari para kyai mereka, ketika argumen kita lemah karena hadits atau dalil yang dibawa, kita akan berusaha untuk terus berusaha mencari kebenarannya, bertanya kesana kemari, mambaca dan searching di internet untuk mendapatkan hal yang dapat menguatkan argumen. Aku tahu bahwa orang yang menolak kebenaran termasuk orang yang sombong. Hmm..ilmu Allah itu luas sekali, mulai saat itu aku berusaha untuk tidak terkotak pada pemahaman dari kalangan Muhammadiyah, belajar dari golongan lain ternyata sangat menantang, walaupun akhirnya aku kembali pada pemahaman awalku, setidaknya aku meyakini prinsip yang ku pegang dalam hidup bukan karena taqlid namun karena pengetahuanku sendiri. Dan yang perlu diingat, dalam hidup itu yang terpenting bukan saling setuju pendapat orang lain, namun saling memahami perbadaan pendapat yang ada.

Seusai mubes css, aku langsung menuju ke Madrasah Mu’aliimiin untuk mengikuti Kongres IKMAMMM,, sikap harus berubah, dari yang hetrogen menjadi homogen, dari kondisi yang didominasi nahdhiyyin berubah menjadi dominasi mutlak Muhammadiyah, karena sekarang aku berada di jantung Muhammadiyah.

harusnya aku lebih tenang dan nyante di Mu’in, karena tidak harus membuang banyak tenaga untuk memahami pendapat orang lain. Tapi itu hanya perasaan awal saja, ternyata konggres Ikmammm lebih menguras tenaga. Perbedaan pendapat tidak terjadi karena perbadaan pemahaman agama yang mendasar, namun karena background organisasi yang berbeda, tentunya setiap oragnisasi mempunyai karakteristik masing-masing. Petinggi dan senior IKMAMMM itu ada yang berasal dari IPM, HW, TS, IMM, dll. Kebanyakan dari mereka juga menjadi senior di organisasi masing-masing.

Pembahasan Tata Tertib aj memakan waktu berjam-jam, dari jam 17.30 hingga 22.30an..wow..belum lagi sidang komisi yang membahas tentang AD/ART...ckckck, subhanallah. Hingga acara yang dijadwalkan tanggal 15 siang selesai harus selesai jam 11an malam...molor yang amat sangat..

Perasaan hati di IKMAMMM makin campur aduk, ya capeklah, bosen, tapi seneng juga, karena ketemu teman-teman seperjuangan, kakak-kakak kelas yang hebat dan keren. Aku juga banyak belajar dari mereka yang sukses di organisasi, belajar dan berdakwah. Melihat mereka seakan-akan aku ini manusia yang bodoh dan tidak bermanfaat, saking hebatnya orang-orang yang berada di sekitarku.

Ada bererapa moment yang berharga menurutku.

pembacaan puisi untuk almarhumah Mb Buraida oleh Mas Abu Bakar, Puisi yang menyentuh hati, diberikan untuk orang yang mulia, yang insyaallah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Aku pernah beberapa kali merasakan kehilangan teman, yang pergi mendahului kita bertemu Sang Maha Pencipta.

Kemudian ketika kumpul angkatan untuk membicarakan perwakilan yang akan dipilih untuk menjadi tim formatur. Harusnya dari mu’at08 Inung dan Santi yang mewakili, namun karena mereka musyrifah, jadi mereka harus pulang ke asrama sebelum maghrib, tinggal aku sendiri yang ada untuk mewakili mu’at08. Namun karena ada suatu alasan aku tidak sanggup untuk menjadi tim formatur, akhirnya dek Iqbal dengan Ikhlas mengajukan dirinya, padahal dia udah jadi ketua panitia + sibuk benget. Dan akhirnya memang dia terpilih menjadi tim formatur bersama Cahya Maulana untuk mewakili angakatan 2008. Maafkan aku dek Iqbal,,,semoga Allah mempermudah segala urusanmu.

Selengkapnya...